13 Des 2011

Kenangan Indah Pertama dan Terakhirku




“Dulu, aku pernah suka sama kamu”
Dan kata-kata itu benar-benar sudah membuatku kalut dan galau. Bagaimana tidak? Kata-kata itu dikatakannya di saat yang benar-benar sudah tidak tepat lagi. Dan lebih-lebih kata-kata itu yang pernah sangat aku tunggu-tunggu dulu, sebelum aku menjadi milik orang lain. Namanya Sunny. Dia adalah cowok yang pernah aku cintai dan pernah aku idam-idamkan dulu.
Dan kenangan itu sedikit demi sedikit muncul lagi dan benar-benar membuatku kelimpungan. Ingin rasanya aku mengungkapkan bagaimana perasaanku yang dulu padanya, namun aku tetap berusaha menghilangkan semua pikiranku tentang dia. Segala hal aku lakukan tapi tidak bisa. Aku malah semakin mengingatnya dan kebingungan saat tidak ada dia. Aku bingung mencarinya. Aku ingin mengungkapkan semuanya pada dia agar hatiku bisa tenang dan bisa menjalani hari-hariku seperti sebelumnya. Aku tidak bisa tenang seperti ini karena dia tidak pernah tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Hinga akhirnya aku beranikan diri untuk mengungkapkan semuanya padanya meskipun rasanya sudah sangat tidak pantas. Tapi dengan cara seperti inilah aku bisa tenang dan tidak memikirkannya lagi.
Dan akhirnya aku mengiriminya pesan karena aku tidak mungkin mengatakannya langsung.

Assalamu’alaikum......

Maaf mengganggu.. Ada yang ingin q bicarakan
Hmmmm...  Melanjutkan percakapan kemarin ya.

“Sebenarnya dulu aku suka sama kamu tapi aku g mau karena tanggal lahir kita g cocok”

Dan Q menyikapinya..
Senangnya mendengar itu dari kamu. Seneng banget.. Sesuatu yang pernah aku tunggu-tunggu dalam waktu yang cukup lama.  Dan aku harus mengatakannya agar aku bisa tenang.
Dulu waktu SMA, aku punya pacar. Udah 2 tahun jadiannya.. Ya bisa dibilang udah sayang banget . Tapi akhirnya brakhir juga setelah berjalan 2 tahun itu.. Tahu kenapa?
Karena hati tak bisa bohong klo prasaan sudah pindah ke lain hati.. Sayangnya ternyata prasaan pada orang ketiga itu tetep tersimpan di hati saja sampai kita berpisah. Dan perasaan itu tidak sanggup aku ungkapkan karena aku perempuan, apalagi saat itu aku merasa banget kalo prasaanku sama dia Cuma bertepuk sebelah tangan saja. Akhirnya hubunganku dengan pacarku kandas karena orang ketiga ini dan ternyata prasaanku pada orang ketiga ini tidak pernah bisa d ungkapkan.. Sampai akhirnya aku kuliah, bertemu dengan seseorg dan bisa sedikit melupakan, mungkin karena sudah sangat jarang bertemu..
Dulu setiap ada kamu, aku sangat senang. Meskipun aku tidak sempat ngobrol, melihatmu saja sudah sangat senang. Dan sudah sejak lama aku suka dengan orang yang memakai kacamata, bahkan sempat tebayang “aku ingin punya cowok yang berkacamata. Dan akhirnya aku bertemu dengan kamu, tapi sudah di saat yang sangat tidak tepat lagi.
Dan akhirnya aku nikah. Semuanya sudah hilang. Dan aku sudah melupakan semuanya dan tidak pernah terlintas dibenakku akan bertemu lagi dengan kamu. Tapi Tuhan berkata lain. Tuhan masih mempertemukan kita meski tak pernah kita rencanakan. Di awal perbincangan, tidak ada perasaan apa-apa, meski sempet terlintas di benakku tentang aku dan kamu dulu. Tp kata-kata terakhir pada percakapan, membuat aku benar-benar galau. Ah.. Bodohnya aku masih seperti itu.. Bahkan sebenarnya sudah tidak pantas lg..

Sepeti itulah ceritaku..

Sekarang Q tanya kamu :

“Benarkah kamu pernah suka sama aku? Benarkah kamu pernah mencintaiku? Seandainya semua itu memang benar, aku akan sangat lega karena prasaanku dulu yang tidak bisa aku ungkapkan tidak bertepuk seblah tangan saja. Tapi kalopun tidak, tidak jadi masalah. Yang penting aku sudah mngeluarkan uneg-uneg yang pernah aku simpan selama 2 tahun lamanya. Sakit rasanya menyimpan prasaan itu sendiri. Seperti yang sudah aku katakan ke kamu. Aku memang pernah berusaha membenci kamu. Sempat aku benci sama kamu, tapi apa pernah aku menghindar dari kamu? Malah yang ada dulu aku malah sangat senang saat ketemu sama kamu. Tapi sakit hati rasanya saat dulu aku mengharapkan kamu, tapi kamu cuek saja tidak meresponku.
Ya begitulah sesungguhnya prasaanku Dulu kamu dan kamulah orang ketiga yang aku maksud sampai aku putus sama  cowokku. Hmmm... Kamu hebat banget ya dimataku dulu.... Tapi sayangnya.. Q hanya bisa berangan-angan saja.. dan terakhir aku bertemu, sebenarnya aku masih menyimpan rasa itu meskipun aku sudah jadi milik orang lain. Tapi semuanya sudah terlambat.
Aku minta maaf dengan statusku sekarang bisa bcara seperti ini. Sebenarnya sudah sangat tidak pantas lagi. Mungkin juga kamu menertawakan aku. Tapi ini lebih baik untukku,, Karena aku tidak ingin terus-terusan merasa bingung, sakit rasanya ... Lebih baik aku ngomong dan aku tenang sekarang. Terima Kasih ya atas semuanya.. Alhamdulillah semuanya sudah aku ungkapkan..

Dan seperti itulah pesan yang aku kirimkan padanya. Dan dengan cara itu aku sangat berharap aku bisa lega tanpa kebingungan lagi.
Dan dia menjawab pertanyananku hanya dengan kata “IYA” saja. Tidak jadi masalah, meskipun hanya 3 huruf saja, aku sudah merasa sangat lega.
Tapi ternyata tidak mudah menepisnya dari pikiranku. Ternyata pikiranku penuh dengan namanya. Dan tidak bisa aku pungkiri, aku selalu memikirkannya. Aku menangis di setiap tidurku mengingat apa yang sudah terjadi padaku? Mengingat Sunny yang seharusnya tidak aku lakukan lagi. Dan begitu pula dengan dia yang sebentar lagi sudah akan menikah. Dan aku benar-benar sangat berusaha melupakannya tapi ternyata tidak berhasil bebas dari memikirkannya. Aku tidak ingin terus-terus membohongi orang lain, dan aku harus segera menyelesaikan masalah ini.
Dan akhirnya aku putuskan untuk menemuinya. Untuk menghabiskan waktu bersamanya, mungkin hanya itu yang bisa membuatku tenang.
Dan malam itu aku pertama kali bertemu setelah sekitar 3 tahun lebih tidak bertemu dengannya. Apa yang aku rasakan? Aku sangat senang bisa bertemu dengan dia lagi, apalagi disaat dia tersenyum padaku. Sesuatu yang sangat aku suka darinya yaitu pandangannya dengan kacamatanya dan senyumannya padaku.
“Udah dari tadi disini”, sapa Sunny padaku.
“Iya”, jawabku sambil sesekali bergurau menutupi salah tingkahku. Mungkin dia tidak sesenang aku saat bertemu seperti ini, tapi aku benar-benar merasakan senang yang tiada tara sampai-sampai aku salah tingkah di depannya. Sampai-sampai aku bingung mau bicara apa hingga akhirnya dia pulang. Dan aku hanya berbicara tidak jelas padanya. Aku menyesal hanya bisa seperti itu saja dan semalam suntuk aku memikirkannya. Aku paksakan untuk tidak memikirnya hingga akhirnya terlelap tidur.
Keesokan harinya aku diajak temanku Fifi ke kantornya. Dan kebetulan fifi satu kantor dengan Sunny. Dan tidak ada niatan untuk bertemu dengannya sebelumnya. Tapi ternyata aku bertemu dengannya lagi. Dia datang dengan ciri khasnya. Dan itu hanya sebentar saja karena dia sangat sibuk dengan jadwalnya saat itu.
Dan aku sudah sedikit bosan menunggu Fifi. Mungkin Fifi faham betul kalo aku bosan dan dia mengajakku jalan-jalan untuk menghilangkan penat sekaligus sarapan karena kita belum sempat sarapan sebelum berangkat pagi tadi.
Sore hari, Diana menelponku dan memintaku menunggunya di kantor Fifi. Diana akan datang menemuiku karena sudah cukup lama juga tidak bertemu denganku. Dan saat aku menunggunya, fifi tidak bisa menemaniku, dia harus pulang duluan, dan mau tidak mau aku harus menunggu Diana ditemani Sunny. Oh my god.. Saat-saat seperti inilah yang sangat aku tunggu. Ingin rasanya ku hentikan waktu agar tidak bisa berjalan hingga aku bisa tetap ada disini sampai pagi. Sudah lumayan larut tapi Diana belum juga datang dan aku belum makan.
“Kamu belum makan”, tanya Sunny padaku sedikit kebinungan sih.
“Hari ini aku cuma makan snack saja.”, jawabku
“Kalo gitu kita kluar makan malam saja. Gimana?”
What???? Aku seperti tidak percaya. Sunny mengajakku makan malam? Itu sangat mustahil rasanya dan sangat sulit kupercaya itu. Tapi memang benar adanya. Dia benar-benar mengajakku diner.
Dinner yang indah dengan alunan musik klasik yang menyertai keindahan dan kelap kelip lampu yang menambah keindahan malam.
“Kamu tidak takut makan malam bersamaku seperti ini”, tanyanya disela-sela makan malam.
“Aku tau maksudmu apa. Dan itu tidak perlu aku jawab”, jawabku singkat. Dan tak ada percakapan spesial tentang kita malam itu. Hanya bercerita ini itu saja. Tapi aku senang. Bisa melihat dia duduk makan malam bersamaku.
“Aku mnta tolong setelah ini jangan hubungi aku lagi lewat handphone ya”, pintanya padaku. Aku paham betul maksudnya dan aku hanya mengangguk. Sesak rasanya di dadaku mendengarnya. Itu berarti perpisahan. Ingin rasanya aku nangis, tapi aku tahan sambil menelan makanan dengan paksa. Aku ingin sekali menangis, kenapa baru sekarang aku merasakan ini? Dalam kondisi kita yang sudah seharusnya tidak seperti ini. Kenapa bukan dulu saat kita sama-sama masih sendiri. Aku tepis perasaan sedihku dan menikmati malam itu.
Dan inilah kenangan terindahku bersamanya yang pertama kalinya dan bahkan mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku benar-benar senang menikmati makan malam ini dan bisa memandangnya duduk tepat di hadapanku. Sejenak aku lupa akan segalanya. Benarr-benar malam yang indah.
Sepulang dari Dinner, aku langsung menemui Diana yang sudah sedari tadi marah-marah menungguku. Dan dia kaget ketika aku menceritakan semuanya padanya. Dan dia kembali mengingatkan aku pada aku yang sekarang. Aku menangis dalam lamunanku. Aku menangis mengingat apa yang sudah aku lakukan. Tapi entah tangisan apa ini? Aku bingung. Apakah ini tangisan untuk kenangan malam ini? Kenangan terindahku yang pertama kalinya dengan Sunny dan bahkan kanangan terakhir yang berarti ini adalah perpisahan? Apa aku menangis karena itu? Ataukah tangisan ini untuk mereka? Untuk dia yang telah memilikiku dan untuk dia yang telah memiliki Sunny? Aku benar-benar bingung dan merasa sangat bersalah. Apa yang sudah aku lakukan ini sudah menyakiti beberapa hati termasuk Sunny sendiri. Mungkin Sunny sendiri tidak pernah menginginkan makan malam ini, tapi itu semua karena ulahku sampai Sunny senekad itu mengajakku makan malam. Mungkin Sunny menyesal telah mengajakku makan malam.
Diana sudah terlelap dan aku belum bisa memejamkan mata. Aku ingin mencurahkan isi hatiku tapi pada siapa? Aku benar-benar kebingungan menangis sendiri. Hanya ada tisu dan bolpoin di tasku dan akhirnya pada tisu itulah aku curahkan semua perasaanku, permintaan maafku pada mereka semuanya. Hingga  jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari aku baru bisa memejamkan mata.
Keesokan harinya aku bangun dari tidurku dan entah kenapa aku seperti tak punya energi sama sekali. Kepalaku terasa sangat sakit. Dan aku memilih diam saja di kamar saat Diana mengajakku jalan-jalan menikmati liburan. Dan di dalam kamar, kembali aku teringat kejadian semalam. Dan itu membuatku kembali syok.

“Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Tempat ini menyimpan banyak kisah dalam hidupku dan aku tidak mau terjebak disini. Tapi untuk melangkahkan kaki saja aku terasa berat. Aku benar-benar tidak punya energi. Dan aku yakin aku tidak sanggup pergi dalam keadaan seperti ini. Aku meminta tolong pada beberapa teman untuk mengantarku, tapi tidak ada yang bisa mengantarku, termasuk Sunny sendiri. Dan aku tau dia menghindariku karena semalam. Aku paham betul tapi aku benar-benar sangat butuh pertolongan waktu itu. Aku harus meninggalkan tempat itu, karena aku tidak ingin terlarut dalam kenangan terlalu jauh lagi”, kataku dalam hati mengingatnya.

Hingga sore hari belum ada yang bisa mengantarku hingga aku putuskan untuk nekad saja. Dan akhirnya aku nekad meninggalkan tempat itu sendirian tanpa siapapun menemaniku. Tapi ternyata aku tidak sekuat itu. Belum seperempat perjalanan, aku sudah lemah. Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dan aku putuskan untuk menghentikan perjalananku. Aku beristirahat di pinggir jalan. Dan ternyata aku berhenti di pertokoan. Terpikirkan olehku untuk masuk dan mencari sesuatu disana. Dan mataku terarah pada jam tangan dan mengingatkanku kembali pada Sunny. Tapi sayangnya aku tidak tau seperti apa yang dia suka. Akhirnya aku memilih seperti yang aku suka. Yang sederhana terlihat cocok jika dikenakan oleh Sunny dan akupun membelinya. Dan lagi-lagi aku bingung aku harus kemana dan dengan siapa. Aku sudah tidak bisa lagi jika harus mengendarai mobil. Hingga akhirnya aku putuskan untuk mencari keramaian yang bisa membuatku sedikit tenang. Dan aku nikmati malam itu sendirian. Aku sengaja menghubungi Sunny agar dia datang menemuiku malam itu agar aku bisa memberikan jam tangan itu langsung padanya, tapi hingga larut malam dia belum datang juga. Ternyata dia ada acara keluarga dan benar-benar tidak bisa menemuiku. Aku bingung harus kemana. Malam semakin larut dan kulihat semua kendaraan ngebut dan aku takut. Aku sangat ketakutan karena sesekali seorang cowok menghampiriku dan mengajak kenalan. Aku paling tidak suka dengan hal itu. Berkali-kali pula aku menghubungi teman-temanku dan tak satupun bisa membantuku malam itu. Dan akhirnya aku pasrah saja. Tetap duduk disana seorang diri. Dan ada seorang cowok menghampiriku dan menanyakanku ada apa denganku. Dia melihatku kebingungan. Cowok ini terlihat baik dan tidak punya niatan jelek. Tapi itu hanya terlihat dari sikapnya saja. Bagaimanapun aku tidak pernah mengenalnya, aku tetap saja khawatir. Hingga akhirnya dia menawarkan diri untuk mengantarku kembali ke rumah temanku. Aku takut, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Menerima tawarannya berarti aku bunuh diri, iya kalau cowok ini cowok baik-baik, tapi jika tidak? Menolak tawarannya, lalu aku harus kemana? Awalnya aku sudah berencana tidur di mesjid, tapi ternyata nasib buruk menimpaku, masjid di sekitar tempat itu dikunci hingga aku tidak bisa tidur disana. Sungguh malang nasibku malam itu. Berkali-kali aku hubungi teman dan juga Sunny, ternyata mereka tidak bisa membantuku. Dan keputusan akhirku, akhirnya aku menerima tawaran cowok tadi. kalaupun dia berniat jahat padaku, aku harus bisa membela diri. Dengan keberanianku, akhirnya cowok itu mengantarku kembali ke tempat Diana lagi. Dalam perjalanan, tak henti-hentinya aku baca sholawat dan benar-benar bersiap-siap menerima kenyataan buruk yang akan menimpaku. Tapi keberuntungan berpihak padaku. Cowok itu ternyata benar-benar baik. Dia mengantarkanku sampai tujuan dengan selamat tanpa pamrih sedikitpun. Allah masih melindungiku. Aku benar-benar bersyukur bisa sampai ke tempat Diana dengan selamat.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan senekad itu. Dan malam itu adalah pengalaman pertamaku duduk menyendiri hingga tengah malam dalam kebingungan. Karena awalnya aku kira Sunny akan datang menemuiku dan aku bisa memasangkan jam tangan itu sendiri dan melihat dia memakai jam tangan itu di depanku. Hanya untuk itu aku menunggu hingga larut malam. Meskipun sebelumnya tidak ada niatan untuk memberikannya jam tangan itu. Dan aku sadar, aku tidak boleh seperti itu terus aku harus kembali ke kehidupanku yang sebenarnya dan aku juga sangat sadar Sunny sudah benar-benar melupakan aku. Bahkan mungkin sudah tidak ada lagi perasaannya padaku. Dan pengalaman ini membuatku sadar akan semuanya. Termasuk pengalamanku dikala denting, Allah selalu melindungiku hingga aku selamat sampai di rumah diana. Aku tak hentinya bersyukur dan akhirnya aku lega dan bisa tertidur lelap malam itu.
Esok harinya, pagi-pagi benar, aku menemui Fifi sebelum dia ke kantor. Aku menitipkan obat yang dia berikan padaku beserta jam tangan yang sengaja kubeli untuknya. Dan setelah aku memberikan titipanku, aku segera pulang dengan tekad, setelah aku keluar dari tempat ini, aku sudah harus bisa melupakan semuanya. Itu tekadku. Dan aku berikan bula tulisan di atas tisu itu pada Sunny. Dan itulah kenangan terakhir yang bisa aku berikan padanya. Dan rasa itu tidak akan pernah hilang meskipun aku sudah memiliki seseorang yang lebih aku cintai.
Dalam perjalananku, aku benar-benar tidak bisa membendung air mataku. Kenangan indah sekaligus menyakitkan buatku. Perpisahan ini benar-benar membuatku sakit hingga air mataku menetes. Dan semua itu hanya akan menjadi kenangan. Cinta itu hanyalah kenangan dan mimpi saja. Dan mungkin aku akan semakin senang jika terlontar sekali lagi langsung dari mulutnya bahwa DIA PERNAH MENCINTAIKU. Dan itulah sebenarnya yang aku tunggu, tapi itu memang mustahil. Dan aku tetap  menunggu dia mengatakan kata-kata manis itu untukku. Dan aku berharap suatu saat nanti, kapanpun itu, aku bisa mendengar, sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku. Karena Sunny pernah terukir Indah dan sangat Indah di hatiku dengan kenangan yang memang sangat sedikit.
Dan aku terima kenyataan pahit ini dan aku akan kembali pada kehidupanku yang sebenarnya dan hidup bahagia bersama seseorang yang sangat mencintaiku dan sangat aku cintai. Dan dialah cintaku yang sesungguhnya saat ini.

Terima Kasih Atas Kenangan indah itu



glitter-graphics.com

13 komentar:

  1. hmmm ... this is beautiful story .... :) Allah Maha Mengetahui dan memiliki rencana yang lain. yakinlah bahwa semua yang diberikan pada kita saat ini adalah yang terbaik dari Allah bagi umatNya. samapikan pada Dia " aku ikhlas dan bersyukur atas segala keputusanMu."

    BalasHapus
  2. Terima Kasih..
    Dan inilah yang terbaik....
    Aku sangat ikhlas dan bersyukur..

    BalasHapus
  3. Nice Story Adekku.. I Like It.. Pengalaman Pribadikah????

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. Very nice story..

    BalasHapus
  6. aku juga masih SMA,
    dan galau!!

    BalasHapus
  7. pengalaman pribadi ini kah????dalam sekali....

    BalasHapus
  8. Wahhh ceritanya bagus sekali tuch..!!!
    terus berkarya yach..!!

    BalasHapus
  9. Very good story
    I like it.Thanks for sharing :D

    BalasHapus