19 Agt 2011

Kesabaran Cinta


Satu
Hatiku mendadak  menjadi gundah. Apa  yang sudah aku dengar barusan benar-benar membuat aku bingung. Jantungku berdetak kencang saat Mama memintaku untuk segera menikah dan aku nyaris tidak punya pilihan lain. Dan tidak pernah aku merasakan kebingungan seperti ini.
Tadi sore, Mama memanggilku ke kamarnya untuk membicarakan hal penting. Mama memanggilku saat aku sedang asyik melanjutkan menulis Novelku di kamar. Aku adalah seorang Novelis meskipun tak begitu dikenal banyak orang. Hanya sekedar hobi yang aku jalankan. Dan aku langsung menghampiri Mama. Mama sudang berbaring di kamarnya karena sudah lumayan lama Mama sakit dan sakitnya bisa dibilang parah.
“Ada apa Ma”, sapaku ketika membuka pintu kamar Mama.
“Andien, kemarilah duduk bersama Mama. Ada yang ingin Mama bicarakan sama kamu”, kata Mama dengan wajahnya yang masih pucat saja. Mama mengidap penyakit Kanker otak yang sudah kronis, bahkan dokter memprediksi waktu Mama sudah tidak lama lagi di dunia ini. Maka sebisa mungkin, aku ingin selalu membahagiakan Mama. Aku segera menghampiri Mama.
“Dien, Mama tahu umur Mama sudah tidak lama lagi, dan kamu sudah dewasa. Mama senang sekali masih bisa merawat kamu menjadi wanita yang sukses dan cantik seperti ini sampai akhir hayat Mama”
“Mama.. Jangan bilang seperti itu, Mama akan baik-baik saja Ma. Andien dan Papa akan terus berusaha agar Mama bisa sembuh total”, kataku pada Mama.
“Dien, penyakit Mama sudah terlalu parah, dan Mama ingin sekali melihat kamu menikah. Kamu sudah dewasa, sudah cukup untuk menikah. Mama ingin melihat kamu jadi pengantin sebelum Mama benar-benar meninggalkan kamu”, kata Mama terbata-bata.
“Ma, mama jangan ngomong seperti itu, Mama pasti bisa melihat Andien nikah Ma, mama pasti masih bisa sembuh”, kataku menenangkan Mama.
“Kamu sudah punya pacar?”, Tanya Mama kemudian. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Kenapa Mama Tanya seperti itu?”
“Kalau kamu sudah punya pacar, mintalah dia agar segera melamarmu, tapi jika masih belum ada calon, Mama dan Papa berencana menjodohkan kamu dengan anak  sahabat Papa. Hidupnya juga sudah mapan. Dien, mama harap kamu pikirkan tawaran mama, ini permintaan terakhir mama Din”, pinta mama dan aku benar-benar tidak tega melihat mama karena meskipun aku selalu menguatkan mama dengan berkata penyakit mama akan sembuh, tapi aku sendiri tidak begitu yakin akan kesembuhan itu. Dan mama akan menjodohkan aku, aku jadi teringat pada Fajar yang baru beberapa bulan ini menjalin hubungan special denganku. Aku sangat mencintainya bahkan kitapun berencana untuk menikah dan apakah aku bisa mencintai orang yang akan dijodohkan denganku? Aku tidak begitu yakin itu.
“Ma, Andien minta waktu untuk memikirkannya ya ma. Secepatnya Andien akan putuskan Ma. Andien janji”, kataku meyakinkanku. Yang aku bingungkan, maukah Fajar melamarku secepatnya?
“Terima kasih Dien. Salamkan salam Mama untuk dia jika kamu memang sudah punya pacar”, kata Mama kemudian dengan tersenyum.
Usai berbicara dengan Mama, terfikirkan olehku aku harus segera menemui Fajar karena aku sudah tidak punya waktu banyak untuk menunda-nunda ini.
Selang beberapa menit setelah aku keluar dari kamar Mama, sebuah mobil berhenti di depan rumah dan Papa datang. Dan begitu papa datang, papa langsung memintaku duduk di ruang tamu.
“Dien, Mama sudah tidur?”
“Baru saja Andien dari kamar Mama. Mama belum tidur pa.”, jawabku singkat.
“Kita ke ruang tamu, ada yang ingin Papa bicarakan”. Aku dan papapun menuju ruang tamu menyusul Papa.
“Dien, tadi siang Papa bawa Mama check Up ketika kamu sedang ke kantor. Dan papa mendapat kabar buruk dari dokter. Kondisi mama tidak semakin membaik, bahkan semakin buruk saja Din. Papa takut waktu mama sudah tidak lama lagi”, kata Papa memelas menceritakan kondisi Mama yang semakin parah.
     Tak terasa air mataku yang sedari tadi kubendung saat berbicara dengan Mama menetes.
“Lalu kita harus bagaimana Pa? Apa dokter tidak bisa menyembuhkan? Apa tidak ada obat yang bagus yang bisa menyembuhkan Mama?”, tanyaku panik.
“Dien, dokter bilang  tidak bisa melakukan apa-apa dengan kondisi mama kamu yang semakin melemah. Dokter hanya memberinya obat dan obat itu sudah yang paling bagus. Dan dokter bilang, kita harus terus membuat mama kamu senang, bahagia agar semangatnya untuk hidup semakin kuat dan bisa membuat kondisi Mama membaik meskipun belum bisa sembuh total. Jika mama tidak lemah seperti ini lagi, dokter menyarankan agar mama langsung di bawa ke Singapur. Saat ini, dengan kondisi Mama seperti itu, dokter  tidak bisa membawa mama ke Singapur.”. Remuk rasanya badanku mendengar kabar itu. Aku sungguh sangat bingung. Mama yang sangat aku banggakan selama ini, tergeletak tak berdaya menunggu waktunya. Oh, Tidak.. Aku tidak bisa terus-terusan melihat Mama seperti itu.
“Dien, sepanjang perjalanan tadi siang ke rumah sakit, mama sempat meminta sesuatu pada Papa. Mama bilang itu permintaan terakhir Mama Dien. Mama ingin melihat kamu menikah” kata papa kemudian.
“Andien sudah tahu Pa, baru saja Mama memanggilku dan membicarakan hal itu pada Andien”, jawabku terisak.
“Lalu apa jawabanmu Dien? Kamu mau kan Dien? Mama dan Papa berencana menjodohkan kamu dengan sahabat Papa. Ini untuk mama, untuk kesembuhan Mama”
“Tapi Pa, Andien butuh waktu. Tadi Andien sudah bilang sama Mama, Andien minta sedikit waktu.”
“Dien, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus bisa bergerak cepat agar mama kamu bisa lebih semangat dan pengobatan itu bisa cepat dilakukan sebelum terlambat. Tolong kali ini kamu jangan egois. Mama tidak pernah melarang setiap apa yang kamu mau. Mama tidak pernah minta apa-apa dari kamu. Sekarang waktunya kamu menuruti kemauan Mama”. Aku terdiam dan tangisanku semakin menjadi karena semua musibah yang menimpaku. Papa hanya menepuk pundakku dan aku tahu  Papa sama sedihnya denganku. Papa sangat mencintai Mama, dan Papa pasti sama terpukulnya denganku saat mendengar kabar buruk ini.
“Pikirkan baik-baik Dien, kita tidak boleh egois, ini untuk Mama, dan Mama Papa tidak mungkin menjodohkan kamu dengan sembarang orang. Papa tahu ini sangat berat untuk kamu tapi tolong dengan sangat, jangan terlalu lama ambil keputusan. Papa mohon Dien”, kata Papa sampai memohon padaku.
Aku merasa tak berdaya lagi, seolah tak ada tenaga lagi untuk berdiri. Bagaimana tidak? Mama yang selama ini sangat memanjakan aku, sekarang tergeletak tak berdaya dan aku belum bisa membahagiakan mama sampai sekarang. Dan aku teringat kembali permintaan mama tadi. Aku harus segera menemui Fajar agar dia mau secepatnya melamar aku sebelum mama dan papa menjodohkan aku dengan laki-laki pilihannya.
Dua
     Keesokan harinya aku menyegerakan diri datang ke kantor agar aku bisa secepatnya bertemu dengan Fajar. Fajar memang satu kantor dengan aku dua bulan sebelum dia menyatakan perasaannya padaku. Memang baru beberapa bulan aku bertemu lagi dengan Fajar, tapi dia adalah temanku sejak SMA sampai kuliah. Dan sejak SMA pula aku suka padanya. Namun aku hanya bisa memendam perasaanku saja karena sangat tidak mungkin aku yang terlebih dahulu mengungkapkan perasaaku. Dan yang aku tahu, sejak SMA pula Fajar tidak pernah aku dengar memiliki seorang teman istimewa. Dan setelah dipertemukan kembali, aku baru tahu kalo’ Fajar juga memiliki perasaan yang sama denganku sejak SMA, tapi dia tidak bisa mengunkapkannya karena dia tidak yakin aku akan menerima cintanya karena sejak SMA aku sudah dikenal sebagai seorang wanita cuek dan sedikit jutek. Baru setelah bekerja, dia mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya dan sangat kebetulan tempat kerja kita sama.
     Sesampainya di kantor, aku temui selembar surat dan undangan di Meja kantorku. Dan aku buka terlebih dahulu undangannya dan ternyata undangan pernikahan Faricha dengan laki-laki yang tidak pernah aku kenal. Tiba-tiba Faricha mengagetkan aku dari belakang. Faricha adalah temanku sejak SMA. Biasanya teman-teman memanggilnya Icha. Dia adalah sahabat karibku. Dia juga selalu menjadi tempat curhatku.
“Hay Dien. Datang ya ke pernikahanku. Acaranya akan special banget”, kata Faricha kegirangan.
“Sama siapa cha? Kaya’nya aku belum pernah kenal dengan nama ini.”
“Aku saja baru tahu laki-laki ini beberapa hari yang lalu Dien”, jawab Faricha singkat.
“Trus, bagaimana dengan Doni?”, tanyaku heran.
“Hubunganku dengan Doni kandas sejak aku dijodohin sama Hafiz, nama yang ada di undangan itu”, jawab Faricha sedikit kecewa.
“Jadi kamu dijodohin? Bukannya kamu anti perjodohan? Kamu sendiri pernah bilang kalau tidak akan pernah setuju dengan perjodohan. Dan aku tahu kamu sudah cinta mati dengan Doni”, tanyaku heran.
“Dien, keluargaku sekarang sedang diambang kehancuran. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Papa menjodohkan aku dengan anak sahabatnya yang akan menghandle perusahaan Papa nantinya dan yang akan menyelamatkan perusahaan Papa. Jadi aku tidak punya pilihan lain. Justru aku setuju dengan perjodohan ini karena Doni. Dia yang menjelaskan semuanya padaku dan menguatkan aku agar aku tetap semangat dan menuruti kemauan orang tuaku. Dan dia bilang, kalo aku dan Doni jodoh, suatu saat nanti kita akan dipertemukan lagi. Ini semua demi orang tua aku. Dan aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mencintai laki-laki pilihan mama papaku. Dan aku yakin suatu saat nanti aku akan bisa mencintainya.” Dan semua penjelasan Faricha mengingatkan aku pada masalah yang saat ini aku hadapi. Aku kembali teringat Fajar.
“Kamu lihat Fajar? Dia sudah datang belum?”, tanyaku pada Faricha.
“Hmm.. Sudah kangen? Dia belum datang. Ini juga masih pagi.”, jawab Icha mengejek. Dan aku kembali teringat dengan surat satu lagi yang ada di meja kantorku dan segera aku buka surat itu dengan amplop berwarnakan biru muda, warna kesukaanku. Tentu itu bukan surat dinas, tapi tak ada nama pengirimnya disitu. Dan setelah aku buka, ternyata surat itu dari Fajar.

Dear Andien..
Dien, saat kamu baca surat ini, mungkin aku sudah ada di New York. Aku tahu kamu pasti kaget saat membaca surat dari aku ini. Dan tiba-tiba saja aku mengabarimu kalo aku sudah ada di New York. Maafin aku tak sempat berpamitan sama kamu Dien. Tiba-tiba saja kemarin Papaku telfon dari New York, dia bilang dia sangat membutuhkan aku saat itu juga. Bahkan aku hanya punya waktu 1 jam untuk berkemas. Dan aku sudah tidak bisa menemui kamu sebelum aku berangkat. Papaku benar-benar sangat membutuhkan aku Dien. Dan semua ini sangat mendesak. Aku sengaja tak menelfonmu karena aku tahu kamu pasti akan sangat sedih dan begitu pula dengan aku, aku tidak bisa mendengar suara kamu di saat-saat perpisahan. Tapi kamu tenang saja, dalam 3 atau 4 bulan, aku akan segera pulang untuk menemui kamu. Aku berjanji Dien karena aku akan datang untuk melamar kamu. Dan kita akan menjadi keluarga yang harrmonis. Maafkan aku Dien yang pergi tiba-tiba seperti ini, tapi ingat.. Aku akan selalu mencintai kamu.
Salam
Fajar Mahardika

     Dan saat itu benar-benar remuk hatiku. Disaat yang mendesak seperti ini, Fajar tidak lagi ada disisiku dan bahkan aku belum sempat menceritakannya pada Fajar. Lalu aku harus bagaimanapun aku tak tahu sekarang. Air mataku menetes membasahi surat dari Fajar. Aku segera pergi meninggalkan kantor sebelum karyawan kantor menanyakanku ada apa dengan aku sampai aku menangis seperti ini. Aku berpamitan pada Icha agar mengijinkan aku untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan yang tidak masuk akal. Aku lari mengitari jalanan panjang dengan kecepatan mobilku yang semakin meningkat.
     Aku benar-benar tak bisa menerima kenyataan ini. Aku harus berpisah dengan Fajar, lelaki yang sangat aku cinta sejak beberapa tahun yang lalu. Dan bahkan aku hanya bisa merajuk cinta dengannya beberapa bulan ini. Cobaan apa yang tengah Tuhan berikan kepadaku. Kabar sedih yang aku dengar dari Papa tentang kondisi Mama dan kabar sedih pula saat mama papa akan menjodohkan aku yang belum tentu aku tahu seperti apa sebenarnya laki-laki itu. Namun dalam kebingunganku mendapat kabar buruk, kabar gembira saat Mama memberiku waktu untuk memikirkan semuanya, tapi sekarang semuanya menjadi kabar sedih yang sangat meremukkan hatiku. 4 bulan bukan waktu yang sebentar untuk Mama. Mungkin pengobatan ke Singapur itu tidak akan pernah ada jika aku tidak segera menikah. Dan mungkin inilah takdirku, menikah dengan seseorang yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Dan air mataku semakin deras seiring mobilku melaju dengan cepat menuju rumahku. Sesampainya di rumah, aku segera ke kamar dan meminta pembantuku untuk tidak member tahukan pada Mama kalau aku sudah datang karena aku tidak mau Mama melihat aku menangis. Aku mengurung diri di kamar, mencari jalan keluar agar aku bisa menyuruh Fajar pulang secepatnya untuk melamar aku.
     Poselku bergetar membuyarkan lamunanku.
“Hallo”, sapa seorang lelaki disana.
“Iya, ini dengan siapa? Ada apa?”, tanyaku penasaran.
“Aku Fajar Dien”, dan suara itu membuat aku kaget saat bilang kalau dia Fajar.
“Fajar.. Kenapa kamu pergi begitu saja? Kamu pergi disaat aku sedang sangat kalut Fajar”, kataku terisak.
“Kamu kenapa Dien? Aku minta maaf pergi tanpa pamit dulu sama kamu. Aku sungguh tidak ada maksud apa-apa Dien. Waktu itu memang sangat mendesak. Sekarang kamu bisa cerita. Ada apa dengan kamu?”, tanya Fajar kemudian. Aku bisa memaklumi kepergian Fajar karena dia memang anak tunggal, jadi wajar saja kalo orang tua Fajar mendadak menyuruh Fajar ke New York, karena hanya Fajar yang bisa membantu Papanya.
“Aku tidak yakin kamu bisa bantu aku kali ini”, kataku sedih.
“Kenapa Dien? Kamu ada masalah apa? Bagaimana aku bisa bantu kalau kamu tidak cerita”
“Aku hanya ingin kamu datang ke Indonesia dan melamarku dalam minggu ini”, pintaku to the point.
“Dalam minggu ini? Kamu bercanda? Kenapa sangat mendadak Dien? Aku belum bisa kembali ke Indonesia sebelum masalah Papa disini selesai Dien. Mungkin 4 bulan lagi aku bisa kembali dan aku janji sama kamu, aku akan langsung melamar kamu Dien. Kamu aneh. Udah pengen cepet-cepet nikah biar bisa sepenuhnya memiliki aku ya?”, kata Fajar dengan nada candanya.
“Aku tidak bercanda Fajar. Jika dalam minggu ini kamu tidak datang, kita akan benar-benar berpisah untuk selamanya, karena Mama dan Papa akan segera menikahkan aku dengan orang lain. Aku tidak punya banyak waktu Fajar”, kataku sambil menangis.
“Tapi kenapa sampai seperti itu Dien? Kenapa mendadak?”
“Penyakit Mama semakin parah Fajar. Dan dia memintaku untuk segera menikah sebelum Mama benar-benar meninggalkan aku selama-lamanya. Meskipun Mama mengijinkan aku memilih calon suami sendiri, tapi jika dalam waktu dekat ini tidak bisa juga aku mengambil keputusan, maka Papa dan Mama akan menjodohkan aku dengan pilihan mereka. Aku tidak mau itu terjadi Fajar karena aku hanya mencintai kamu”,
“Andien.. Kamu tenang dulu. Aku pikirkan lagi gimana baiknya. Akan aku usahakan sebisa mungkin untuk pulang ke Indonesia. Besok aku hubungi kamu lagi, tapi kamu harus janji, kamu harus tenang, jangan sampai kamu menangis di depan mama kamu. Aku juga tidak mau kehilangan kamu, aku sangat mencintaimu. Kamu tenang ya..”, dan aku langsung menutup telfon dari Fajar karena aku sudah tak kuasa lagi menahan tangisku. Hatiku semakin hancur. Aku tahu Fajar sangat mencintaiku tapi waktu yang sangat tidak mendukung kita untuk melanjutkan hubungan ini. Dan lebih menyedihkan lagi dalam hidupku, aku hanya diberi waktu beberapa bulan saja dengan laki-laki yang sangat aku cintai lebih dari 4 tahun yang lalu.
     Setelah aku menerima telfon, aku tetap mengurung diri di kamar sampai mataku tidak membengkak dan aku tidak boleh terus menangis karena itu akan membuat Mama khawatir. Mama sangat menyayangiku, dan dia pasti sangat khawatir jika tahu aku menangis.
     Matahari mulai terbenam, aku keluar dari kamar dan segera menemui Mama karena sangat rindu rasanya seharian tidak bertemu Mama dan aku ingin melihat kondisi Mama. Membaikkah atau justru sebaliknya. Aku menghampiri Mama di tempat tidurnya dan menyapanya.
“Selamat sore Mama. Mama udah makan? Gimana kondisi mama hari ini? Lebih baik kan?”, tanyaku pada Mama yang sedang terbaring di tempat tidur.
“Mama baik, tadi Mama sudah makan. Kerjamu di kantor bagaimana? Baru datang?”
“Iya ma. Andien baru datang dari kantor, trus mandi, trus kesini kangen sama Mama”, kataku memanja pada Mama.
“Dien, gimana penawaran Mama tempo hari? Kamu mau kan nikah sama anak  sahabat Mama?”, aku kembali sedih mengingat itu sedangkan aku sendiri belum tahu keputusan dari Fajar.
“Mama.. Mama sekarang konsen sama kesehatan Mama saja ya..? Mama tidak usah memikirkan Andien, kalo sudah tiba waktunya pasti Andien nikah”, jawabku menyembunyikan kegalauanku.
“Andien, Mama tidak mau melewati prosesi pernikahan kamu Andien. Mama pengen lihat kamu jadi pengantin sebelum Mama benar-benar pergi. Ini permintaan terakhir Mama Dien”, kata Mama dengan tatapannya sangat berharap aku bisa segera menikah.
“Dua hari lagi Andien akan memberikan keputusan Ma. Tapi mama harus janji sama Andien kalo Mama akan tetap semagat agar penyakit Mama bisa cepat sembuh. Mama harus janji sama Andien”, kataku menghibur Mama. Dan terlihat senyuman manis dari bibir Mama. Aku senang melihat Mama bisa tersenyum seperti itu. Andai saja aku bisa selalu melihat Mama tersenyum seperti ini.
***
     Pagi yang cerah meskipun tak secerah hatiku saat ini. Aku segera berangkat ke kantor agar semua tugas-tugasku cepat selesai dan aku bisa ijin pulang lebih awal untuk mengantarkan naskah novelku ke penerbit karena sudah harus diantar hari ini. Aku melihat ruangan Fajar di kantor kosong dan aku sangat merindukannya yang setiap pagi menyapaku dari ruangannya sambil meneguk secangkir kopi. Aku hanya tersenyum melihat ruangan kosong Fajar.
“Andien? Sudah sembuh? Kamu kenapa?”, tanya Icha tiba-tiba mengagetkanku dari belakang.
“Icha, ngagetin aku aja”
“Eh, Fajar kemana sich? Kemarin kalian janjian tidak masuk kantor”, dan aku terdiam saja di meja kerjaku.
“Dien, kok diem aja sih? Kenapa? Lagi ada masalah?”
Aku terdiam sejenak sampai akhirnya aku menceritakan semuanya pada Icha karena dialah selama ini yang selalu menjadi tempatku curhat.
“Cha, aku sedang ada masalah. Fajar sekarang ada di New York. Mendadak dia harus berangkat kesana untuk membantu masalah-masalah perusahaan Papanya disana”
“Lalu masalahnya?”, tanya Icha memotong pembicaraanku.
“Orang tuaku mau menjodohkan aku Cha”
“Hah?? Kenapa kita jadi senasib Dien?”, Icha kaget mendengar aku akan dijodohkan. Yang dia tahu aku sangat mencintai Fajar sejak sekian lamanya.
“Kondisi Mamaku semakin parah Cha. Dan Mama memintaku untuk segera menikah. Tapi Mama memberikan aku pilihan. Aku akan nikah dengan pilihanku sendiri asalkan dalam waktu dekat ini sudah harus dipastikan waktunya, tapi jika aku tidak bisa menentukan waktunya secepatnya, Mama akan menjodohkan aku dengan anak sahabat Papa. Aku tidak tega menolak kemauan Mama cha sedangkan aku tahu sendiri bagaimana kondisi Mama sekarang ini. Aku tahu penyakit Mama akan sangat sulit disembuhkan”, aku menceritakan panjang lebar semua masalah yang mengganggu pikiranku beberapa hari ini.
“Lalu, kamu sudah hubungi Fajar? Suruh dia pulang secepatnya”, kata Icha panik
“Sudah Cha. Hari ini dia akan memberikan keputusannya padaku dan sepertinya aku tidak bisa bersatu dengannya. Sepertinya aku akan benar-benar bernasib sama dengan kamu Cha. Fajar tidak mungkin bisa pulang dalam minggu ini karena dia sangat dibutuhkan oleh Papanya. Aku tahu Papanya sangat keras. Tidak mudah baginya untuk mendapatkan ijin dari Papanya”, dan air mataku sudah tak bisa dibendung lagi. Aku menangis dipelukan Icha. Memikir apa yang akan diputuskan oleh Fajar nanti.
***
     Jam sudah menunjukkan jam 12 siang. Aku segera pulang dan menyegerakan untuk sholat dhuhur terlebih dahulu, baru setelah itu menemui Mama. Ketika hendak menemui Mama, ponselku berdering dan Fajar menelponku. Jantungku berdebar kencang, takut rasanya mendengar keputusan terburuk dari Fajar.
“Halo Andien. Apa kabar kamu hari ini?”, sapa Fajar dari seberang sana sekedar basa basi menanyai kabarku. Hatiku kalut, bingung, takut mendengar keputusan Fajar.
“Tidak begitu baik. Fajar, jadi keputusannya kamu akan pulang kan?”, tanyaku terkesan memaksa.
“Andien. Aku sangat mencintaimu Dien”, sebelum Fajar melanjutkan pembicaraannya, aku sudah terlebih dahulu memotong pembicaraannya.
“Aku sudah tahu jawaban kamu Fajar. Kamu tidak bisa pulang kan?”, kataku lirih.
“Andien, aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Aku juga sama sakitnya disini Dien. Tapi pasportku dipegang Papa dan Papa tidak mengijinkan aku pulang secepat ini Dien. Aku minta maaf Dien, ini bukan mauku”, kata Fajar dan benar-benar membuat remuk hatiku.
“Fajar, mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama. Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Tapi Tuhan berkata lain. Kita pasrahkan saja semuanya pada Allah. Mungkin, setelah kamu sudah ada di Indonesia lagi, aku sudah menjadi milik orang lain. Maafkan aku Fajar, aku tidak bisa menolak permintaan Mama dan mungkin permintaan Mama yang terakhir. Aku benar-benar minta maaf  Fajar karena hubungan kita hanya sebatas ini saja, dan mimpi-mimpi kita untuk menikah hanya tinggal mimpi saja”, kataku dalam tangisku. Aku sudah tidak kuat lagi menahan diri untuk tidak menangis. Rasanya sangat sulit harus berpisah selamanya dengan Fajar. Sangat sulit menerima kenyataan ini.
“Andien, aku paham betul maksud kamu. Aku tahu kamu juga sangat mencintai aku. Biarlah mimpi itu hanya sebatas mimpi saja. Jika jodoh, Tuhan akan mempertemukan kita kembali suatu saat nanti. Aku bangga sama kamu Dien. Dan kamu harus tabah dan berusaha menerima kenyataan ini”
“Fajar, mulai saat ini lupakan aku. Lupakan semua tentang kita. Karena aku akan menjadi milik orang lain. Dan untuk yang terakhir kalinya Fajar, aku mau bilang kalau aku sangat mencintai kamu. Selamat tinggal Fajar”, dan aku langsung menutup telpon dan membuka SIM Cardku dan membuangnya. Keputusan ini adalah tanda perpisahan kita, maka aku harus melupakan semua yang berhubungan dengan Fajar agar aku bisa belajar menerima suatu kenyataan pahit ini.
Tiga
     Hari ini hari minggu dan pagi ini adalah dua hari setelah kandasnya hubunganku dengan Fajar. Dan aku masih terlihat sangat lesu dan tidak berdaya. Seusai sholat subuh, aku bergegas mandi dan membereskan rumah dan langsung mengajak Mama ke ruang makan untuk sarapan bersama di ruang makan dengan kursi rodanya. Pagi ini Mama terlihat pucat, dan terpikirkan olehku mungkin pagi ini adalah saat yang tepat mengatakan pada Mama kalo aku setuju dijodohkan.
     Ditengah menyantap sarapan pagi, tiba-tiba Papa menegurku dan disaat aku akan mengatakan semuanya pada mereka.
“Dien, kamu kenapa? Sepertinya tak semangat sama sekali hari ini. Kamu sakit?”, Tanya Papa mengagetkan aku. Ku tatap wajah mama yang mengernyitkan dahi, terlihat sedikit khawatirkan pada aku.
“Pa, Ma, Andien baik-baik saja. Justru ada yang ingin Andien bicarakan”
“Ada ada Dien?”, Tanya Mama penasaran.
     Kutarik nafasku dalam-dalam
“Setelah semalaman aku berfikir ulang kembali, aku memutuskan untuk….menerima tawaran Mama dan Papa. Andien mau dijodohkan Ma, Pa”, kataku dengan tampang pura-pura senang yang sebenarnya sakit hati ini memutuskannya. Tapi inilah yang terbaik.
“Andien? Kamu serius? Kamu setuju bukan karena terpaksa kan Dien?”, Tanya Mama dengan mata berbinar.
“Iya Ma, Andien serius dan tidak ada rasa terpaksa sedikitpun karena Andien pikir sudah waktunya Andien memulai hidup baru”.
Aku telah membohongi perasaan aku sendiri dan sudah membohongi kedua orang tua aku, tapi ini demi Mama, akan aku lakukan apapun untuk membahagiakan Mama. Apalagi dengan kondisi Mama yang seperti ini. Aku sungguh tak sanggup lagi dengan keadaan ini. Tapi aku teringat bahwa Allah tidak akan memberikan suatu cobaan kepada hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya. Dan aku teringat pesan guruku sewaktu SMA yang sangat memotivasiku hingga saat ini aku masih ingat.  Kalau Allah sudah mempercayakan cobaan itu padaku, maka aku yakin aku bisa mengatasinya. Mungkin ini cobaan atas diriku untuk menjadikanku lebih dewasa lagi. Jika aku bisa melewati semua cobaan ini, aku lulus dalam ujianNya. Dan aku akan selalu berusaha mencinta laki-laki pilihan Mama dan Papa.
***

     Hari ini aku akan bertemu dengan calon suamiku yang akan dikenalkan padaku. Papa dan Mama mengundang sahabatnya datang ke rumah dan pastinya bersama laki-laki yang akan dijodohkan denganku. Aku hanya bisa pasrah saja, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Di dalam kamar, aku kembali teringat Fajar, dan perih rasanya hatiku jika aku mengingat Fajar.
“Non, Andien.. Di panggil Nyonya Non”, Mama sudah memanggilku, mungkin tamunya sudah datang. Jantungku berdebar kencang dan aku belum siap bertemu dengan mereka, tapi Mama sudah menungguku di kamar. Aku menghampiri Mama di kamar Mama.
“Andien, kamu sangat cantik. Mama bangga punya anak sebaik dan secantik kamu. Mama bangga Dien. Terima kasih sudah mengabulkan permintaan terakhir Mama”, kata-kata Mama membuat aku terharu sampai aku hampir tak bisa membendung air mata. Tapi aku tahan dan mencoba menghibur Mama.
“Tapi Mama udah janji sama aku kan kalau Mama akan semakin optimis agar penyakit Mma bisa hilang, Ok” kataku menahan pilunya hati. Dan akupun membawa Mama ke ruang tamu karena disana Papa dan tamunya sudah menunggu.
     Dia…??? Jantungku serasa terhenti ketika aku melihat laki-laki yang datang bersama orang tuanya. Dia adalah sahabat Fajar, dan aku tau dia pasti tak kalah kagetnya denganku. Oh Tuhan, kenapa laki-laki yang akan dijodohkan denganku harus dia, kenapa harus Galih? Kenapa harus sahabat Fajar? Aku semakin bingung dengan semua ini. Galih adalah sahabat Fajar semenjak SMA bahkan sampai kuliah pula. Dan akhir-akhir inipun Fajar dan Galih masih tetap berkomunikasi meskipun tak sering bertemu. Sewaktu SMA, Galih menyukaiku. Tapi dia mengalah untuk  Fajar. Dia memendam perasaannya karena Fajar adalah sahabatnya, sampai aku dan Fajar jadian, dia tidak pernah mengusikku.
“Lho Dien,, Kok diam saja? Ayo kenalan dulu dong sama sahabat Papa ini”, kata Papa mengagetkan aku dari lamunanku. Dan satu persatu aku salami dan termasuk dengan Galih. Dan acara selanjutnya adalah makan malam. Aku sudah tidak nafsu makan lagi setelah tahu siapa yang akan dijodohkan denganku. Papa dan Om Reza, sahabat Papa sedang asyik ngobrol begitu pula dengan Mama yang juga asyik ngobrol sama Istri om Reza. Aku dan Galih hanya terdiam menerima kenyataan ini. Seusai makan, mama menyuruhku mengajak Galih jalan-jalan di taman belakang rumah yang kebetulan memang sudah sejak aku tinggal disini ada taman yang memang dikhususkan untukku dan teman-temanku. Aku hanya mengiyakan saja, setidaknya aku bisa bicara dengannya.
“Galih, kamu sudah tahu tentang perjodohan ini?”, tanyaku memulai pembicaraan. Dan Galih hanya mengangguk saja tanpa sepatah katapun.
“Dan kamu tahu kalau calon istrimu itu aku?”, tanyaku ketus.
“Aku tidak pernah mengharapkan adanya perjodohan Dien. Dan aku tidak pernah tau siapa calon istriku. Memang aku pernah suka sama kamu, tapi ini bukan salah satu dari skenarioku. Aku tahu kamu sangat mencintai Fajar. Tapi aku tidak ingin mengecewakan Mamaku Dien. Seandainya dari awal aku tahu kalau wanita itu kamu, aku akan menolaknya, tapi sekarang semuanya sudah terlambat, aku tidak bisa membatalkannya. Tapi jika kamu memang memaksa untuk membatalkan perjodohan ini, akan aku lakukan Dien”
“Tidak. Pernikahan ini harus tetap berlanjut Galih. Aku sudah putuskan untuk memilih pilihan orang tuaku walau perih rasanya, sangat menyayat hatiku karena aku harus berpisah dengan seseorang yang sangat aku cintai. Kamu tentu tahu bagaimana aku mencintai Fajar. Tapi dia tidak bisa ada disini disaat genting seperti ini. Semua ini mendesakku untuk menuruti kemauan Mamaku yang sedang sakit parah dan mungkin ini adalah permintaan terakhirnya padaku. Mungkin kini saatnya aku membalas semua kebaikan Mamaku, sudah saatnya aku membahagiakan orang tuaku. Dan aku akan selalu berusaha mencintai kamu Galih. Maafin aku jika aku masih belum bisa melupakan Fajar”, dan air mataku tak bisa dibendung lagi. Aku menangisi keadaanku saat ini. Dan inilah kenyataannya bahwa aku harus menikah dengan seorang laki-laki yang tidak lain adalah sahabat Fajar.
“Apa pernikahan kita akan membuat kamu bahagia?”,
“Setidaknya Mamaku akan sangat bahagia Galih. Maafkan aku Galih tapi ku akan sangat berusaha untuk  bisa mencintai kamu sebisa mungkin”. Itu janjiku pada Galih, tapi aku tidak tau sampai kapan aku akan seperti ini.
***
     Malam berganti pagi, pagi berganti malam  hingga beberapa hari lagi pernikahanku. Semuanya sibuk mengurus pernikahanku yang akan menjadi pernikahan mewah. Seharusnya Fajar yang menggandengku dipelaminan tapi ternyata aku akan melihat orang lain disampingku, orang lain yang akan menemani tidurku setiap malam dan entah sampai kapan aku akan terus-terusan bersikap dingin pada Galih. Hari ini aku harus mengambil gaun pengantin yang akan aku pakai pada pernikahanku. Mama menyuruh Galih menemaniku mengambil gaunnya. Lantas aku hanya diam saja di mobil dan begitu juga dengan Galih.
“Dien?? Kamu baik-baik saja kan?”, tanya Galih membuka obrolan.
“Kenapa Lih? Aku baik-baik saja. Memangnya kamu melihat aku seperti sedang sakit?”, tanyaku agak ketus.
“Tidak juga, mungkin kamu memang tidak sakit, tapi mungkin hatimu yang sedang sakit menerima kenyataan akan menikah dengan aku, bukan dengan Fajar. Dien, ini bukan kemauanku. Kalau kamu mau, aku batalkan pernikahan kita”
“Aku tidak apa-apa Galih. Kamu tidak usah ungkit-ungkit itu lagi”, balasku semakin kesal dengan celoteh Galih. Dan tiba-tiba saja Galih mengambil ponselnya dan entah siapa yang dia hubungi. Galih mengeraskan volume ponselnya. Dan hanya hitungan detik setelah tersambung, suara seorang laki-laki terdengar dan kurasa tidak asing ditelingaku.
“Hallo”, sapa laki-laki di seberang telpon sana.
“Hallo Fajar? ?”, aku kaget ketika Galih menyebut nama Fajar. Jangan-jangan Galih sudah menceritakan pada Fajar kalau dia calon suamiku. Dan Galih menyaringkan volume ponselnya sampai aku juga bisa mendengar suara Fajar. Sungguh aku sangat merindukan Fajar, dan ingin mendengar suaranya. Beruntunglah Galih mengeraskan volume ponselnya.
“Jar, kamu harus pulang secepatnya. Kamu harus  pulang sekarang juga. Kalau tidak, kamu tidak akan pernah bisa memiliki Andien lagi. Dia akan menikah Jar dan aku tau dia tidak pernah bisa mencintai orang lain selain kamu. Dia tidak akan pernah bahagia bersama orang lain”
“Tapi Galih, aku tidak bisa pulang tanpa passport. Passport aku disimpen Papa. Papa tidak mengijinkan aku pulang”, jawab Fajar dan akupun sudah bisa menerka Fajar akan menjawab seperti itu.
“Kamu egois Jar. Apa kamu tidak pernah berfikir Andien tidak akan bahagia dengan pernikahan ini”
“Dia bisa melewati semuanya Lih. Aku tahu itu. Dia adalah seorang perempuan yang sabar dan siapapun yang menjadi suaminya,aku harap dia akan sabar hidup bersama Andien sampai Andien benar-benar bisa melupakan aku dan aku yakin mereka akan bahagia nantinya. Hanya waktu yang akan bisa menjawab. Maaf Galih, aku tidak bisa pulang. Hatiku sama remuknya dengan Andien, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maaf”, dan kata maaf itu mengakhiri perbincangan mereka. Sekuat tenaga aku membendung air mataku dan mungkin mataku sekarang memerah.
“Menangislah jika itu akan membuat kamu lebih tenang”, kata Galih mengagetkanku. Ternyata dia tahu kalau aku menahan diri untuk tidak menangis.
“Maaf  aku tidak bisa banyak membantu kamu. Cuma itu yang bisa aku lakukan. Dan maaf aku belum mengatakan pada Fajar kalau akulah calon suamimu, sulit bagiku untuk mengatakannya. Aku tidak mau dia menganggapku penghianat. Aku sangat solid padanya sejak SMA. Bahkan aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku sama kamu bertahun-tahun hanya untuk Fajar karena sebenarnya dia sudah suka sama kamu sejak SMA, dan dia selalu mencurahkan isi hatinya padaku, tapi aku janji akan mengatakannya secepatnya”, sambung Galih. Aku segera menghapus air mataku ketika gerbang butik sudah terlihat. Aku turun memasuki butik itu disusul Galih dibelakangku.
“Andien kan? Ini pasti calon pengantin prianya. Pasangan yang sangat serasi. Ayo sekarang gaunnya dicoba dulu. Biar nanti bisa terlihat kekurangan di gaun kamu”, sapa pemilik butiknya. Dan tak ada senyum yang aku tebarkan karena aku memang tidak mengharapkan pernikahan seperti ini. Akupun langsung mengambil gaunnya dan mencobanya begitu juga dengan Galih. Aku keluar dengan gaun yang sangat indah. Tidak bisa aku pungkiri, aku sangat suka dengan Gaun ini tapi lagi-lagi aku teringat Fajar dan membayangkan dia yang menggandengku seperti impian aku selama ini. Tapi segera aku tepis pikiran itu, karena pemilik butik sudah memanggilku keluar. Dan begitu aku keluar, aku melihat Galih diluar sudah mengenakan busana pengantinnya dengan rajutan warna biru, sesuai dengan kesukaanku. Galih memang tampan, tapi entah hatiku tak tergetar sedikitpun.
“Nah sekarang kalian berdua berdiri didepanku layaknya pengantin beneran. Aku koreksi busananya”, pinta pemillik butik itu. Dan Galih menghampiri aku.  Aku berusaha tersenyum meskipun sangat terpaksa. Dan di saat pernikahan nantipun aku harus selalu tersenyum dan  tidak seperti ini karena Mama akan menjadi saksi pernikahan kita juga. Setelah busana pengantinnya kita coba, kita langsug pulang. Awalnya Galih mengajakku makan siang, tapi aku menolaknya. Aku memilih untuk langsung pulang saja dan Galih mengerti itu.

Empat
     Hari pernikahan itu tiba. Aku dan Galih mengenakan busana pengantin yang sudah kami pisan jauh-jauh hari. Semua undangan sudah banyak yang datang termasuk teman-teman kantorku yang awalnya kaget saat menerima undanganku. Dan disaat aku keluar untuk prosesi akad nikah, aku melihat Galih sudah menungguku. Tak ada gurat senang diwajahnya meskipun itu adalah yang pernah diimpikannya dan aku tahu penyebabnya. Dan prosesi pernikahan dimulai. Tanganku gemetar. Sebentar lagi aku akan sah menjadi istri Galih. Dalam situasi kalut terbayangkan olehku seandainya Fajar datang dan menghentikan pernikahan ini dan menggantkan Galih disampingku, tapi itu hanya bayanganku saja dan tidak mungkin karena Galih sudah menikahiku dan tanpa aku sadari dia sudah mengucapkan ijab qabul dan kita resmi menjadi suami istri. Rasanya air mataku sulit aku bendung. Tapi aku tak boleh meneteskan air mataku meskipun hanya setetes karena aku melihat wajah Mama sangat senang melihat aku menikah. Aku bahagia karena sudah mengabulkan permintaan Mama, sangat bahagia meskipun hatiku remuk jika mengingat Fajar.
     Aku duduk bersanding dengan Galih. Yang aku lihat, Galih melebarkan senyuman kepada semuanya meski aku tahu dalam bahagianya dia juga menyimpan sakit di hatinya karena aku belum  bisa mencintainya. Aku hampir saja meneteskan air mata kalau saja Mama tidak mengajakku foto bersama. Pernikahan ini sangat mewah tapi kosong yang aku rasakan. Dan mulai detik ini, aku akan tinggal bersama seorang laki-laki yang tidak pernah aku cintai dan aku harus berjuang untuk bisa mencintainya.
     Di tengah-tengah resepsi dan setelah semua tamu menyalami aku dan Galih, galih mengajakku ke taman belakang. Entah apa yang ingin dia tunjukkan padaku. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya.
“Dien, aku sudah menceritakan semuanya pada Fajar dan dia memintaku untuk menghubunginya di hari pernikahan kita, dia ingin mendengar suara kamu”, aku tercengang mendengarnya. Mungkinkah aku kuat membendung air mataku?? Galih memencet tombol ponselnya dan diberikannya padaku.
“Hallo Lih”, sapa Fajar dari seberang sana. Aku diam, tak sepatah kata terucap dari mulutku karena aku menahan sakit di hatiku dan menahan tangisku. Karena aku tak kunjung bicara, Galih meraih ponselnya dan menjawab Fajar.
“Fajar. Maafkan aku sudah menghianatimu. Prosesi pernikahan sudah dilaksanakan”,
“Galih, aku senang jika kamu yang menjadi suami Andien, setidaknya dia menikah dengan orang yang sangat mencintainya. Aku titip Andien Lih. Bahagiakan dia dan bersabarlah karena dia pasti akan mencintaimu. Oya, apa aku bisa bicara dengan Andien istrimu sebentar saja”
“Kapanpun kau ingin menghubunginya, akan aku ijinkan Fajar, bahkan jika kau memintaku untuk tidak menyentuhnya sedikitpun akan aku turuti Fajar. Mungkin dia hanya milik kamu”, jawab Galih lirih dan langsung menyodorkan ponselnya padaku. Aku harus bisa, aku harus kuat dan tidak boleh menangis. Ku raih ponsel dari Galih. Dan kuberanikan untuk menyapanya.
“Fajar”, kataku terbata.
“Selamat ya Andien, akhirnya kamu menjadi Nyonya Galih. Aku turut senang mendengarnya. Mulai sekarang dia suami kamu dan kamu harus patuh pada imam kamu. Jangan pernah mengingat masa lalu, raihlah masa depan yang cerah. Sayangnya aku tak bisa datang ke pernikahan kalian.”
“Mungkin kalau kamu datang, bukan Galih yang menjadi suamiku, tapi kamu”, entah kenapa keluar kalimat itu dari mulutku  bahkan aku tak ingat Galih ada disebelahku. Galih hanya diam saja melihatku dengan gurat kesedihan.
“Maaf Andien. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Selalu ingatlah statusmu. Kamu istri Galih dan jadilah istri yang solehah untuk Galih. Selamat ya”, aku mengiyakan dan aku langsung memberikan ponselnya pada Galih karena aku tidak ingin terlalu lama berbicara dengan Fajar.
“Fajar, sekali lagi aku minta maaf”, sambung Galih melanjutkan pembicaraan.
“Lih, kamu tidak perlu minta maaf dan aku tidak pernah memintamu untuk tidak menyentuh Andien. Siapa bilang dia milikku? Dia hanya milikmu, dia istrimu sekarang. Kamu berhak atas Andien, sangat berhak. Selamat ya Galih. Selamat menempuh hidup baru. Mudah-mudahan sepulangku dari New York nanti, aku sudah melihat keponakan kecilku nanti”, kata Fajar menghibur dan merekapun bersenda gurau sejenak sebelum akhirnya Galih menyudahi percakapannya. Dan Galih kembali mengajakku kedalam kerumunan banyak orang yang mungkin sempat bingung mencari pengantinnya.
Lima
     Selesai akad nikah dan walimatul ursy, Galih membawaku ke hotel yang tak begitu jauh dari rumahku dan masih dengan busana pengantin lengkap. Aku memasuki kamar pertamaku dengan Galih. Entah kenapa Galih mengajakku kesini. Kenapa tidak memilih di rumah saja. Aku melihat kamar yang sangat indah dan mewah dan harum. Semua ini sudah dirancang oleh Galih. tapi keindahan kamar itu justru membuat aku takut melewati malam ini.
“Kamu suka kamarnya Andien?”, Tanya Galih.
“Suka Lih. Dekorasinya bagus?”, kataku mengiyakan Galih.
“Ini semua aku yang merancangnya sendiri, untuk kamu”, kata Galih tersenyum meskipun aku tak membalas senyumannya.
Aku menyegerakan diri untuk mandi dan mengganti busana pengantinku dengan baju yang sudah aku bawa dari rumah. Seusai mandi, aku menemukan Galih tengah duduk disamping jendela dan memandangi malam lepas. Aku beranikan diri untuk menemuinya dan segera pula menyuruhnya mandi.
“Galih. Kamu tidak mandi?”
     Galih menoleh ke arahku dan mengangguk lesu. Tidak ada pancaran kebahagiaan yang aku lihat dimatanya. Betapa egoisnya aku memperlakukan Galih seperti ini. Seharusnya malam ini adalah malam yang sangat membahagiakannya. Seharusnya malam ini menjadi malam pertama yang indah untuk Galih. Tapi apa aku bisa melakukannya? Ya Rabbi, maafkanlah aku jika aku tidak bisa menjadi istri yang sholehah bahkan jika aku tidak bisa memberikan yang terbaik pada suamiku mal mengajar ini.
Lamunanku dikagetkan oleh Galih yang baru saja keluar dari kamar mandi. Setelah mengganti pakaiannya, Galih kembali duduk di samping jendela memandang malam lepas. Aku tak berani menyapanya atau aku memang tidak ingin menyapanya aku tidak mengerti. Yang aku tahu aku seolah masih belum siap melewati malam pertama ini dengannya.
“Tidak tidur Dien?”, Galih kembali membuyarkan lamunanku. Aku gugup, entah aku harus jawab apa. Aku kira dia akan memintaku untuk melayaninya malam ini layaknya seorang pengantin baru.
“Ehmmm.. Belum. Aku belum bisa tidur”, kataku singkat
“Tenang saja Dien, aku tidak akan menyentuhmu sedikitpun jika itu yang kamu mau”, kata-kata itu benar-benar mengagetkanku karena begitu baiknya Galih mengerti keadaanku  sedangkan aku istrinya yang seharusnya menurut padanya.
“Galih. Kamu adalah suamiku. Sudah seharusnya aku menurutimu dan semua atas diriku adalah milikmu. Sudah sepantasnya kamu melakukannya layaknya pengantin baru lainnya aku tidak pernah memintamu untuk tidak menyentuhku”, aku sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku, tapi kenyataannya Galih memang harus merasakan kebahagiaan malam ini dan aku tidak boleh egois. Bukankah istri yang sholehah yang akan mencium surga?
     Galih menghampiriku. Jantungku berdebar kencang. Dan aku pasrah saja karena ini adalah hal yang sepantasnya bagi pengantin baru. Galih duduk disampingku di tempat tidur dan dia memegang pundakku.
“Dien, bukan seperti ini yang aku mau. Meskipun kamu adalah istriku, bukan berarti aku harus memaksamu untuk melakukannya. Aku tidak ingin melakukannya lantas kamu sendiri tidak merasakan kebahagiaan. Aku ingin melakukannya jika kamu benar-benar ikhlas melakukannya denganku. Aku bisa pahami kamu”, dengan senyuman dia berkata padaku. Aku semakin merasa berdosa jika aku memperlakukan suamiku sendiri seperti itu.
     Galih memandangku, menatapku lekat-lekat, dan tak ada raut senang yang bisa kutampakkan pada Galih dan aku sangat yakin Galih mengerti bahwa aku masih belum siap malam itu.
“Ya sudah, aku keluar dulu pesan makanan. Kamu  mau makan? Nanti aku pesankan”, kata Galih mengalihkan pembicaraan.
“Tidak usah Galih”, jawabku singkat.
“Ya sudah kalau begitu kamu  langsung  tidur saja, sepertinya kamu sangat kelelahan” dan Galih langsung bergegas keluar kamar.
     Maafkan aku Galih karena aku belum bisa melakukannya malam ini. Aku tidak ingin disaat kita melakukannya yang terlihat dimataku bukan kamu, tapi Fajar,sungguh itu akan semakin menyayat hatiku dan akan semakin menyakitkanmu jika kamu tahu.
***
     Beberapa menit kemudian Galih tiba kembali di kamar. Aku memilih berbaring terlebih dahulu dengan memiringkan tubuhku membelakangi Galih.
“Dien, aku makan dulu”, sapa Galih padaku. Aku bangkit dari tidurku dan menghampiri Galih. Galih heran melihatku.
“Kamu  mau ikutan makan?”, Tanya Galih menawariku. Dia menyodorkan sesendok makanannya padaku sambil bercanda sampai aku tak bisa mengelak dia menyuapiku. Dan lantas aku bisa tertawa saat itu.
“Melihat kamu tertawa saja, aku sudah merasa sangat senang malam ini”, kata Galih tiba-tiba. Aku memalingkan wajah melihat ke malam lepas.
“Galih, aku sendiri tidak pernah menyangka akan menikah dengan kamu”, kataku memulai pembicaraan. Galih diam melanjutkan makannya.
“Aku juga tidak pernah menyangka akan menikah dengan pujaan hatiku yang selalu aku puja sejak sekian lamanya”, sambung Galih.
“Dan aku istrimu Lih. Aku sepatutnya membahagiakanmu malam ini”
“Aku sudah sangat bahagia bisa menikah dengan kamu”, jawab Galih tenang.
“Terima kasih Galih kamu sudah sangat mengerti aku” jawabku singkat.
     Dan malam itu, tak ada pengantin baru, tak ada malam pertama karena aku dan Galih melewatinya biasa saja. Tidur saling membelakangi dan tak ada perbincangan yang berarti.

Enam
     Aku dan Galih dapat cuti selama 1 minggu untuk berbulan madu. Dan hari-hari itu sangat membosankan karena kami tidak seperti seorang pengantin pada umumnya yang selalu mengumbar kemesraan dimana-mana. Biasanya hanya duduk saja di kamar memandang pemandangan luas. Sesekali keluar hanya untuk makan atau sekedar menghirup udara segar, seusai itu semua, kami kembali begitu saja ke kamar.
     Hari ini aku sungguh sudah sangat bosan dan akhirnya aku putuskan untuk masuk kerja saja.
“Galih, aku ingin masuk kerja sekarang. Aku juga ingin merampungkan novelku yang datanya aku simpan di computer kantor”, hanya alasan saja agar Galih tidak tersinggung kalau sebenarnya aku sangat bosan di kamar hotel itu. Padahal hari ini baru hari ke empat pernikahanku sedangkan cutiku 1 minggu.
“Silahkan. Kalau begitu, aku juga ke kantor saja. Aku bosan di kamar terus beberapa hari ini”, kata Galih agak sedikit menyambung. Aku merasa bersalah jadinya, tapi apa dayaku? Akupun bersiap berangkat ke kantor.
“Dien, mau berangkat bareng?”, Tanya Galih saat aku sudah bersipa berangkat. Aku tak langsung menjawabnya, namun kupikir-pikir lagi. Dan memang sebaiknya aku terima penawaran Galih karena aku tidak mau satu orangpun curiga atas apa yang terjadi padaku.
     Aku mengangguk mengiyakan ajakan Galih dan Galih terlebih dahulu mengantarku sebelum dia harus segera ke kantor juga. Galih bekerja di perusahaan Papanya. Dia adalah anak tunggal, jadi sudah pasti Papanya sangat berharap Galih akan melanjutkan perusahaannya.
     Mobil BMW yang kutumpangi melaju dengan cepat tanpa tersadar aku sudah sampai di depan kantorku. Aku bergegas membuka pintu, tapi langkahku terhenti ketika aku teringat sosok laki-laki disampingku yang tak lain adalah suamiku sendiri..
“Galih? Ada yang tertinggal?”, Tanya Galih melihatku tertegun saat akan membuka pintu.
“Oh,, Tidak ada Lih. Aku masuk kantor dulu. Assalamu’alaikum”, jawabku menoleh pada Galih dengan melontarkan sedikit senyumanku. Sepantasnya aku berpamitan dulu padanya dan seharusnya aku mencium tangannya sebelum keluar, tapi kuurungkan niatku untuk mencium tangannya karena seketika itu bayangan Fajar terlintas.
“Wa’alaikumsalam. Dien tunggu”, kata Galih memegang tanganku. Entah ada apa lagi? Galih menatapku seolah ada yang ingin dia katakan. Mungkinkah dia akan mencium keningku seperti halnya suami istri yang akan berangkat kerja?
“Oh iya, nanti sore kita pindah ke rumah kita yang baru. Aku sudah menemukan rumah beberapa hari yang lalu, jadi kita bisa berkemas sepulang kantor nanti”, kata Galih gugup seolah bukan itulah sebenarnya yang akan dia lakukan. Aku hanya mengangguk tersenyum dengan melepas tanganku pelan dari genggaman Galih. Aku bergegas masuk kantor dan kulihat pula dari dalam kantor dia tak segera pergi sebelum aku sudah benar-benar tak terlihat lagi.
***
     Jam sudah menunjuk jam 12.00 siang. Sudah waktunya aku pulang. Sebelum pulang aku mampir ke masjid dekat kantor dimana aku selalu sholat duhur disana dan dengan Fajar. Kebetulan tadi aku menolak saat Galih menawarkan diri untuk menjemputku.
     Ya Allah.. Apa yang sudah aku lakukan adalah kesalahan besar. Aku bukanlah seorang istri yang sholehah yang selama ini aku impikan. Aku justru kerap membuat suamiku sakit hati. Sudah empat hari pernikahan kita tapi aku belum juga menuntaskan tugasku sebagai seorang istri. Bahkan menciumku saja Galih tidak pernah. Itu semua karena dia sangat menjaga perasaanku. Ya Allah.. Engkau telah berikan suami yang sangat sabar dan soleh terhadapku. Aku sangat bersyukur. Namun aku juga ingin menjadi istri yang sholehah. Bantulah aku agar aku bisa melupakan Fajar, masa laluku Ya Allah agar aku bisa menjadi istri yang sempurna untuk suamiku.  Aku ingin membahagiakan suamiku. Bukakanlah pintu hatiku untuknya Ya Allah.. Aku ingin mencintainya tanpa bayang-bayang Fajar. Maafkan dosa-dosaku ya Allah…
     Tetesan air mataku sudah tak bisa dibendung lagi. Aku bersimpuh memohon ampun atas dosaku dan memohon agar aku bisa menyingkirkan Fajar dari hatiku dan mohon dibukakan hatiku untuk Galih suamiku.
     Seusai sholat dhuhur dan khusu’ berdo’a, aku langsung bergegas pulang karena aku harus berkemas untuk pindah ke rumah baruku. Sesampainya di hotel, kudapati kosong dalam kamarku. Galih tidak ada disana tapi tas sudah ada di kursi hotel. Itu artinya Galih sudah pulang sedari tadi dan membereskan semuanya. Selang beberapa menit setelah kepulanganku, Galih masuk kamar.
“Dien, kamu sudah datang? Oh, maaf aku masukkan baju-baju kamu ke tas tanpa ijin. Maksudku biar kita cepat berangkat”, kata Galih gugup saat aku memandangnya.
“Terima kasih Lih. Kamu dari mana?”,
“Oh ini, aku ke resto pesan makanan buat kita sebelum kita pulang. Ehhhmmm… Itupun kalau kamu mau. Tadinya aku mau buat surprise, tapi ternyata kamu sudah datang. Tapi kalau kamu tidak suka dengan ini, aku bisa batalkan kok”, kata Galih salah tingkah.
“Kenapa harus dibatalkan? Kita makan bareng disini”, jawabku menghibur Galih yang sedari tadi gugup dan salah tingkah. Aku ke kamar mandi membersihkan diri yang sudah gerah rasanya setelah setengah hari ini bekerja. Seusai aku mandi, Galih sudah duduk di meja kamar hotel menungguku dengan beberapa hidangan di meja.
“Dien, kamu sudah selesai? Kita makan dulu”, ajak Galih
     Aku menghampiri Galih dan hidangan di depan mataku ini adalah makanan kesukaanku. Tentunya dia sangat perhatian padaku sejak dulu sampai dia tahu makanan kesukaanku. Aku dan Galih menyegerakan makan siang bersama meskipun itu bukan kali pertama aku makan bersama dengan Galih, tapi hanya selalu sebatas itu, tidak lebih dari itu. Dan saat santap siangku usai dan sejenak beristirahat, Galih mengajakku berangkat ke rumah baru.
“Dien, kita berangkat sekarang?”, ajaknya padaku.
“Lih, kamu mau kan sebelum berangkat kesana, kita mampir dulu ke rumahku. Ada yang ingin aku ambil disana dan aku kangen sama Mama. Aku ingin melihat kondisi Mama”, pintaku pada Galih sebelum kita keluar rumah.
     Galih mengangguk mengiyakan ajakanku. Aku senang Galih mau kuajak ke rumah, karena aku memang sudah ingin sekali bertemu dengan Mama dan melihat kondisinya.
     Mobilpun melaju kencang menuju rumahku. Dan entah kenapa hatiku berkata aku tidak ingin hari ini pindah ke rumah baru itu. Tinggal serumah dengan Galih, aku belum bisa membayangkan. Ada perasaan lain yang menggelutiku di saat-saat aku akan memulai hidup baru dengan Galih di rumah baruku.
“Galih, kamu keberatan malam ini kita tidur di rumah Mama dulu?”, entah kenapa sampai terpikir hal itu. Tapi menurutku itu masih wajar saja karena aku bisa alasan aku masih ingin bersama Mama.
“Kenapa Dien?”, Tanya Galih sambil mengontrol kemudinya.
“Aku ingin tidur bersama Mama malam ini.”, jawabku singkat.
“Boleh lah”, jawab Galih singkat pula. Mungkin sebenarnya Galih tahu maksudku tapi dia pura-pura tidak tau.
     Tidak sampai satu jam, mobilku sudah ada di halaman rumah Mama. Aku segera masuk karena sudah ingin sekali bertemu dengan Mama. Aku dapati mama sedang ada di ruang keluarga nonton televisi.
“Assalamu’alaikum Mama”, teriakku menghampiri mama dan memeluknya. Tak lupa aku mencium tangan mama.
“Andien, Mama kangen”, kata mama memelukku. Terlihat Mama juga sangat merindukanku.
“Mana suamimu? Kamu sendirian kesini? Tidak baik datang kesini sendiri. Semua harus atas ijin suamimu”, kata Mama menanyakan Galih yang seketika Mama bertanya dia masuk rumah.
“Assalamu’alaikum  Mama. Galih tidak mungkin membiarkan Andien berangkat sendirian kesini. Nanti Mama marah-marah sama Galih”, kata Galih menyalami Mama dan menghibur Mama. Sontak Mama tertawa mendengarnya dan akupun ikut tertawa. Sungguh sangat senang melihat Mama tertawa lagi dan sepertinya  Mama sangat bersyukur aku menikah dengan Galih. Terlihat dari sikap Mama yang menunjukkan Mama sangat menyukai menantunya ini.
“Ma, malam  ini Andien ingin tidur bersama Mama. Andien ingin memeluk Mama dalam tidur Andien. Andien temenin Mama tidur, biar Papa tidur di kamar tamu saja dulu”,
“Mama tidak mau”, kata Mama ketus.
“Lo kenapa Ma?”
“Kalian kan masih pengantin baru, masa’ kamu mau tidur sama Mama. Suami kamu tidur sama siapa? Kamu pulang saja”
“Tidak apa-apa Ma. Di kamar Andien kan banyak boneka, jadi Galih bisa tidur sama boneka-boneka. Lagian Andien sangat merindukan Mama. Tadi dia merengek-rengek minta di antar kesini sebelum pulang, karena dia terlihat sangat merindukan Mama, akhirnya Galih putuskan malam  ini kita bermalam disini dan Andien tidur dengan Mama”, kata Galih dan berbohong pada Mama agar Mama mengijinkan aku tidur bersamanya malam  ini. Aku melihat Galih tersenyum, dan dia membalas senyumanku.
“Ya sudah kalau Galih memang yang mengijinkan kamu tidur sama Mama. Mama juga kangen sama kamu”, kata mama merangkulku.
“Galih ke kamar dulu ya Ma”. Galih segera menuju kamarku setelah sudah cukup ngobrol bersama Mama dan aku segera menyusulnya pula.
     Kubuka pintu kamarku, kudapati Galih tengah duduk membelakangi pintu dengan tangan dikepalanya seolah dia sangat kelelahan dan banyak pikiran. Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku, padahal pintu kamarku terbuka dengan bunyi cukup keras untuk didengar seseorang yang ada di dalam. Aku menghampiri Galih dan duduk disampingnya. Galih kaget melihatku sudah ada disampingnya.
“Eh, Andien. Mengagetkanku saja. Kamu sudah tadi masuk kamar?”, Tanya Galih kaget.
“Setidaknya aku melihat kamu letih tak bergairah. Sini aku pijitin”, kataku sambil membalikkan badan Galih membelakangiku dan mulai memijiti pundaknya. Awalnya Galih menolak, tapi aku sudah membalikkan badan untuk membalikkan badan Galih membelakangiku.
“Galih, terima kasih kamu sudah mengijinkan aku tidur bersama Mama disini. Terima kasih atas pengakuan kamu tadi ke Mama. Kalau kamu tidak melakukan itu, mungkin Mama benar-benar menyuruhku pulang”, kataku sambil memijat pundak Galih.
     Galih membalikkan badannya dan menggenggam tanganku.
“Andien… Semua itu aku lakukan untuk kamu. Aku akan lakukan apapun demi kebahagiaan kamu. Aku ingin melihat kamu tertawa, tersenyum, bukan hanya diam saja. Kalau ada disini memang lebih baik buat kamu, aku turuti saja kemauan kamu”,
“Terima kasih Lih”, ucapku, Galih menatap mataku lekat-lekat dan penuh arti. Tapi mataku menolak pandangan itu.
“Eh, kamu aku pijitin ko’ malah balik badan?”, tanyaku salah tingkah.
“Badanku sudah tidak terasa sakit. Sudah cukup pijitannya”, kata Galih padaku lirih.
“Kalau begitu, kamu mandi dulu. Gerah kan rasanya. Aku juga mau mandi”, kataku langsung berdiri menghindari Galih. Galih tersnyum kecil melihat tingkahku yang aku rasa berantakan sekali. Semua itu reflek ku alami, tidak pernah ada niat menjauhi dan selalu seperti itu. Seolah ada yang mendorongku untuk tidak melakukannya.
     Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Usai sholat isya’ hingga sekarang, tak ada yang bisa aku lakukan. Hanya duduk manis dengan Galih di depan televisi dengan jarak tak begitu dekat. Terasa bosan sekali rasanya dan sangat tidak mungkin aku membiarkan Mama melihat aku duduk berjauhan seperti ini dengan Galih. Aku putuskan untuk ke dapur membantu Bi Tinah pembantuku. Aku memilih membantunya menyiapkan makan malam.
     Setelah semuanya beres, aku memanggil Mama dan Papa untuk makan malam begitu juga dengan Galih. Di tengah santap malamku, Mama menegurku.
“Dien, Mama liat kamu dari tadi lebih banyak diam”, aku kaget saat mama menanyaiku hal itu. Aku diam bingung harus jawab apa.
“Sudah dua hari ini Andien sariawan Ma. Jadi dia jarang bicara, sakit katanya. Tapi sudah Galih belikan obat”, kata Galih dan lagi-lagi membohongi Mama untuk membantuku yang kebingungan mencari jawaban yang pas. Dan lagi-lagi aku tertegn dibuatnya.
“oh, mama pikir kenapa”, sambung Mama.
“Dien, kamu masih kerja di kantormu itu?”, Tanya Papa kemudian.
“Iya Pa, kenapa?”
“Apa tidak sebaiknya kamu berhenti saja? Papa rasa pekerjaan Galih sudah cukup untuk hidup kalian. Kalau memang mencari kesibukan, kamu bisa cari kesibukan di rumah saja. Tugasmu kan menjadi seorang istri yang sholehah. Iya kan Lih?”, dan sebelum Galih menjawab, aku terlebih dahulu menjawab.
“Ehhmm.. Tidak apa-apa Pa.. Andien bosan jika harus di rumah terus. Andien tidak akan melupakan kewajiban Andien sebagai istri kok. Lagi pula mas Galih sudah mengijinkan Andien tetap bekerja disana. Iya kan mas?” kataku dan dengan panggilan mas terhadap Galih karena memang panggilan itu yang seharusnya, apalagi ini di depan kedua orang tuaku, aku tidak boleh hanya memanggil nama Galih.
“Iya Pa.. Andien biar tetap bekerja disana saja dulu. Dia pasti sangat bosan menunggu Galih pulang kantor. Lagi pula Andien kerjanya Cuma setengah hari saja. Tapi nanti kalau Andien hamil, Galih tidak akan mengijinkannya kerja, demi janin yang dikandungnya nanti”, aku juga dikagetkan dengan kata-kata Galih barusan saat menyebut kata Hamil. Sontak aku tersendat dan terbatuk-batuk. Langsung kuminum segelas air yang ada di depanku.
“Mama senang mendengarnya. Ternyata kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi. Mama pikir kalian tidak akan bahagia karena kalian menikah karena dijodohkan. Tapi sekarang Mama tidak perlu khawatir lagi, karena Galih sangat mencintai Andien. Terima kasih ya Galih”
“Sama-sama Ma. Sudah seharusnya Galih seperti itu. Andien kan istri Galih”, kata Galih dan tentu saja membuat aku tersindir.
     Usai makan malam, Galih ke kamar dan aku menyusulnya dengan membawakannya segelas kopi jahe.
“Galih, sekali lagi terima kasih sudah membantuku lagi mencarikan alasan pada Papa”, kataku pada Galih yang sedang duduk membelakangiku.
“Sama-sama Andien”, kata Galih tak bergairah.
“Ini kopi jahe buat kamu. Aku ke kamar Mama dulu ya. Malam  ini aku tidur sama Mama”, kataku pamitan pada Galih dan hendak keluar.
“Tunggu Dien”, kata Galih dan aku pun menghentikan langkahku. Galih menghampiri aku dan berdiri pas di depan aku. Diraihnya tanganku dan digenggamnya erat.
“Terima kasih kopi jahenya. Terima kasih tadi kamu sudah memanggilku dengan panggilan mas. Dan aku minta maaf tadi aku sempat mengungkit masalah hamilnya kamu nantinya. Itu hanya untuk membuat Papa sama Mama tidak curiga saja. Tidak apa-apa kan?”, Tanya Galih
     Aku hanya mengangguk. Kudapati dia menatapku dan kembali dengan penuh arti. Entah kenapa aku tidak bisa menghilangkan reflekku saat Galih berusaha mendekatiku? Tiba-tiba saja aku reflek melepaskan tanganku.
“Aku ke kamar Mama dulu”, kataku dan langsung keluar kamar. Aku berfikir apa yang sudah aku lakukan. Kenapa aku tidak bisa merubah sikapku ini. Kataku bergelut di dalam hati.
     Aku langsung menuju kamar mama dan kudapati Mama sedang berbaring. Aku menghapiri Mama dan ikut berbaring disamping Mama dan dengan perasaan gelisah memikirkan sikapku barusan.
“Andien, kenapa kamu gelisah”, kata Mama tiba-tiba mengagetkanku.
“Mama belum tidur?”
“Gimana Mama bisa tidur kalau anak kesayangan Mama ini gelisah”, kata mama memanjakanku.
“Andien baik-baik saja Ma. Cuma lagi kurang enak badan”, kataku menyembunyikan kegelisahanku.
“Dien, Mama bahagia akhirnya kamu menikah juga. Dan mudah-mudahan Mama masih sempat menggendong cucu Mama”
“Mama…. Baru 4 hari Andien nikah, masa’ mau langsung punya anak sih?”
“Iya juga sih. Mungkin tahun depan Mama sudah punya cucu dan mudah-mudahan mama diberi panjang umur”
“Makanya mama harus tetap semangat. Mama harus kuat agar Mama bisa melakukan pengobatan terbaik. Apa Mama tidak ingin melihat Andien gendong anak Andien nantinya?”, dan Mama hanya mengangguk saja.
“Sekarang Mama istirahat. Mama tidur sekarang biar besok pagi Mama fit lagi”, dan Mama mencoba memejamkan mata saat aku memintanya untuk segera tidur.
     Kupandangi wajah mama yang masih tetap cantik meski penyakit ganas itu sudah lama mengganggu Mama. Dalam hatiku aku meminta maaf pada Mama karena aku belum bisa secepatnya memberikan kabar gembira kehamilanku. Mungkin masih akan butuh waktu lama lagi Ma. Tak terasa air mataku menetes saat memandang Mama yang sudah terlalap.
Tujuh
     Hari ini adalah hari minggu. Usai sarapan, aku berpamitan pada Mama dan Papa karena aku masih harus bersih-bersih rumah baruku. Satu persatu aku berpamitan pada Mama dan Papa.
“Ma, Andien berangkat dulu ya Ma.. Mama harus janji sama andien kalau minggu depan Mama harus sudah bisa berangkat ke Singapure, biar keinginan Mama yang Mama sampaikan tadi malam tercapai dan biar Mama tidak selalu bergantung pada kursi roda ini”, kataku menyemangati Mama. Mama mengangguk tersenyum. Berganti aku berpamitan pada Papa, begitu juga dengan Galih yang bergantian berpamitan.
     Mobil sudah melaju kencang meninggalkan rumahku yang sudah kutempati sejak aku kecil. Dan mulai saat ini aku sudah benar-benar akan tinggal berdua dengan suamiku.
“Dien, kalau boleh tahu memangnya apa yang diinginkan Mama?”, Tanya Galih sambil mengemudikan mobilnya.
“Mama ingin aku segera punya anak. Dia berdo’a mudah-mudahan dia masih sempat menggendong cucunya.”, kataku lirih dan Galih hanya diam saja dan begitu sampai akhirnya kita sampai di rumah kita yang baru.
     Aku kaget melihat rumah yang sangat mewah itu dari dalam mobil.
“Tunggu Dien, jangan keluar dulu”, kata Galih menahanku saat aku hendak turun dari mobil. Galih bergegas keluar duluan dan membukakan pintu mobilku bak seorang pangeran yang menyambut putri. Aku keluar dan menuju rumah baruku. Begitu Galih membukakan pintu rumah, aku sangat terkejut melihat dekorasi rumah dan furniture yang sangat indah. Bunga mawar merah bertebaran dimana-mana. Aku berjalan menelusuri rumah baruku yang sangat indah dan kali ini Galih berhasil membuat aku terpesona.
“Lih, ini semua kamu yang mendekorasi?”, tanyaku heran melihat kesana kesini.
“Iya Dien. Sengaja kemaren sebenarnya aku tidak masuk ke kantor. Sebenarnya aku mempersiapkan semua ini dan setelah itu aku buru-buru pulang dan menyiapkan barang-barang kita karena pikirku aku ingin sekali segera memberitahumu kejutan kecil ini”
“Jadi kamu lakukan semua itu? Tapi kenapa kamu tidak melarangku saat aku mengajakmu bermalan di rumah Mama?”
“Karena aku pikir berada disana akan lebih membuat kamu senang dibandingkan rumah ini”. Aku memandang Galih yang sedari tadi terlihat sangat senang melihatku.
“Kamu bisa lihat kamar kamu disana”, kata Galih sambil menunjukkan kamar dan mengantarku kesana. Galih membuka kamar dan aku kembali terpukau oleh indahnya kamarku yang tak kalah indahnya dengan di luar. Bunga Mawar juga masih merah merekah menghiasi kamar, di setiap pojok kamar bunga mawar yang sangat indah dan membuat kamar itu wangi dan indah dilihat. Kamar yang sangat strategis sehingga aku bisa melihat indahnya malam dibalik jendela kamar ini.
“Kamu suka kamarmu?”, Tanya Galih dan aku sedikit bingung dengan kata-kata Galih barusan yang bilang “kamarmu” padaku.
“Maksud kamu?? Bukannya ini kamar kamu juga?”
“Tidak Dien. Kamar aku di sebelah dan aku bisa tidur dimanapun aku bisa. Aku bisa tidur di lantai bawah”
“Kenapa begitu?”, tanyaku heran
“Aku takut kamu terganggu dengan adanya aku dan kamu tidak pernah bisa tidur nyenyak”, kata Galih dengan tenangnya dan terlihat tanpa beban mengatakannya karena aku tahu dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Aku tertegun dan menghampirinya. Aku peluk Galih dengan erat.
“Galih.. Terim kasih atas semuanya. Aku sudah sangat egois, memikirkan perasaanku sendiri, tapi kamu masih sangat sabar menghadapiku. Terima kasih atas pengertian kamu. Dan terima kasih atas rumah dan kamar yang indah ini. Tapi ini bukan kamarku, ini kamar kamu dan aku. Kamu tidak pernah mengganggu tidurku”, kataku dan semakin erat memeluk Galih. Galih membalas pelukannya dengan penuh perasaan. Tapi itu tidak lama karena tiba-tiba kebiasaanku terulang kembali. Aku melepas pelukan Galih dan bersikap salah tingkah lagi dan Galih sangat paham itu.
***
     Ini adalah malam pertamaku di rumah ini. Sehari ini aku tidak perlu membereskan rumah lagi karena setibaku disini tadi, rumah sudah tertata rapi. Dan Galih tidak membolehkan aku keluar kamar, entah apa yang dia rencankan. Aku tidur saja di kamar sampai akhirnya Galih membangunkanku. Seingatku aku tertidur setelah sholat ashar dan sekarang sudah magrib. Kusegerakan ke kamar mandi dan sholat magrib. Usai sholat, Galih memberiku bungkusan besar.
“Apa ini Galih?”, tanyaku heran
“Kamu lihat saja”, dan aku langsung membukanya. Sebuah gaun yang sangat cantik dan sepatu cantik pula.
“Aku mau kamu memakainya malam ini. Aku mohon, please!!”, kata Galih memohon.
“Tapi kita mau kemana?”
“Pakai saja dulu, nanti aku beri tahu. Sekarang kamu dandan yang cantik, 10 menit lagi aku kembali dan maaf kamarnya aku kunci hanya untuk memastikan kamu tidak mengintip keluar”, aku bingung dengan sikap Galih hari ini. Bingung, takut bercampur aduk. Tapi aku segera memakai gaun itu dan berdandan secantik mungkin, mungkin ini akan membuat Galih senang. Karena beberapa hari ini dia sangat sabar menghadapiku.
     Sudah 10 menit berlalu. Galih belum juga datang. Tapi tak lama kemudian dia datang. Dia seperti tercengang melihatku.
“Andien.. Kamu terlihat sangat cantik malam ini”
“Jadi kalau bukan hari ini tidak cantik”
“Tetap saja cantik, tapi malam ini lebih special”
Galih memanduku untuk keluar kamar bak seorang putri. Begitu aku keluar dari kamar, suasana malam yang sangat indah. Hanya lilin bertebaran di lantai yang menyinari rumah ini. Alunan music yang sangat indah melengkapi indahnya malam ini begitu juga dengan wangi mawar yang masih semerbak. Hidanganpun sudah tersedia di meja.
“Galih, kamu persiapkan semua ini sendirian? Ini alasan kamu mengurungku sehari ini?”, tanyaku kagum melihat indahnya malam ini.
“Ini special untuk kamu di rumah baru kita. Mudah-mudahan kamu suka dengan semua ini”, kata Galih dengan senyum bahagia.
“Aku sangat senang malam ini dengan semua ini. Terima kasih Galih”, kataku. Kuhampiri Galih perlahan dan entah apa yang mendorong niatku, akhirnya aku mencium Galih tepat dibibirnya. Dan diapun membalas ciumanku.
“Terima kasih Galih”, kata Galih saat aku melepas ciumanku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dan Galih mengajakku ke meja makan untuk menyantap makanan yang sudah tersedia. Malam  ini aku lalui bersama Galih, aku tidak mau dimalam yang indah ini dia kecewa lagi. Aku dan Galih menikmati makan malam  yang sangat indah ini. Usai makan, Galih mengajakku berdansa dengan alunan music yang sangat mendukung. Malam  ini aku pasrah saja mengikuti kemauan Galih. Dan akupun terbawa suasana indahnya malam. Tanpa aku sadari Galih menggendongku ke kamar tapi saat dia merebahkan tubuhku ke atas ranjang, aku kembali terkaget saat melihat Galih ada di depan mataku dan berusaha mencumbuiku malam itu. Entah kenapa saat aku sadar aku langsung menghindar dari Galih. Galih terlihat kembali kecewa. Aku merasa sangat bersalah. Galih duduk membelakangiku. Tidak sepantasnya di malam yang indah ini aku kecewakan dia, dengan apa yang sudah dia persiapkan untuk malam ini. Aku memeluknya dari belakang dan berusaha mengontrol diriku agar aku tidak menolaknya lagi.
“Galih, maafkan aku. Aku hanya kaget saja karena ini yang pertama kalinya.”, kataku ngeles
“ Sekarang aku sudah siap Galih”, kataku lirih berusaha membuat Galih kembali bahagia.
“Andien.. Aku tidak apa-apa. Kau mau berdansa denganku saja sudah sangat membuat aku senang Galih. Apalagi tadi kamu menciumku dengan sangat mesra. Aku pikir ciuman itu tanda bahwa kamu sudah bisa menerima aku. Tapi memang masih butuh waktu. Aku sangat bahagia malam ini”, kata Galih melepaskan pelukanku dan saat ini dia sudah menghadapku, mendekatiku.
“Selamat tidur Andien, terima kasih untuk malam ini. Aku sangat bahagia”, kata Galih seraya membelai pipiku dan diapun berlalu keluar kamar meninggalkanku. Aku sungguh merasa sangat bersalah dengan semua ini. Air mataku menetes menyesali perbuatanku yang sama sekali tak menunjukkan sebagai seorang istri yang sholehah. Kusegerakan ambil wudhu untuk sholat isya’ dan memohon ampun kepada Allah karena aku sudah menolaknya lagi malam  ini.

Delapan
     Sudah satu bulan usia pernikahan kami tapi tetap saja tidak ada perubahan pada diriku. Aku masih tetap seperti biasa, dan masih belum bisa menerima Galih. Bahkan Galih sampai tidak berani lagi menyentuhku. Suasana di kantor menjadi suasana lebih baik untukku. Saat aku tiba di kantor, Icha yang sejak menikah berhenti kerja disini tiba-tiba sudah duduk di meja kerjaku.
“Icha?”, sapaku girang melihat sahabatku ada disini.
“Andien.. Aku kangen sama kamu”, jawab icha sembari memelukku. Kurasakan ada yang ganjal menyentuh perutku saat icha memelukku. Ya, icha sudah mengandung 5 bulan. Icha menikah 5 bulan sebelum pernikahanku. Dia menikah siri dengan suaminya sebelum resepsinya digelar satu bulan sebelum pernikahanku.
“Kamu sudah isi?”, tanyaku sambil mengelus perutnya.
“Iya nih. Akhirnya meskipun awalnya aku tidak pernah suka dengan pernikahan ini, aku bisa punya anak juga darinya”, kata icha nyerocos.
“Kamu sudah bahagia dengan suami kamu?”, tanyaku iseng
“Sangat.. sangat dan sangat bahagia. Apalagi saat aku hamil seperti ini, dia selalu memanjakan aku”, kata icha girang.
“Kamu kapan nyusul?”, sambung icha menimpali aku pertanyaan yang sulit untuk ku jawab. Aku jadi teringat rumah tanggaku yang tak begitu harmonis.
“Kamu kenapa Dien?”, Tanya icha saat melihat ekspresiku yang jadi sedih. Mungkin aku bisa berbagi cerita dengan Icha, dia memiliki masalah yang sama denganku.
“Cha, sebenarnya aku belum pernah melakukannya dengan Galih”
“Kamu bercanda kan? Kalian sudah satu bulan nikah. Kamu belum pernah melakukannya?”
     Aku hanya mengangguk mengiyakan icha.
“Ada apa dengan Galih? Dia mengacuhkanmu?”
“Bukan dia cha, tapi aku”
“Kenapa Andien? Dia suami kamu. Apa kamu lupa? Dosa besar bagi seorang istri yang menolak suaminya saat mengajak bercinta”
“Tapi aku tidak bisa melakukannya cha. Setiap aku bersamanya, yang kuingan selalu saja Fajar. Aku belum bisa melupakan Fajar Cha”, kataku dan tak terasa air mataku menetes.
“Dien. Memang sulit melupakan orang yang pernah sangat kita cintai. Apalagi kamu dan Fajar sudah bertahun-tahun memendam perasaan. Tapi kamu sekarang sudah menjadi istri orang. Kamu harus bisa melupakan Fajar Dien. Kamu harus mengerti perasaan suami kamu. Kamu jangan egois Dien. Aku yakin kamu pasti bisa”, kata icha menenangkan aku dalam peluknya.
     Tiba-tiba ponselku berdering dan pesan dari Papa. Papa memintaku datang kesana karena Mama akan di bawa ke Singapure. Aku langsung menghubungi Galih, mengajaknya  ke rumah Mama dan dia memintaku menunggunya di kantor.
“Kenapa Dien?”, Tanya icha yang sedari tadi masih ada disampingku.
“Mamaku akan melakukan pengobatan ke singapure dan Mama minta aku kesana sebelum Mama berangkat”
“Ku do’akan mudah-mudahan Mamamu bisa cepat sembuh. Kalau begitu, aku pulang dulu ya Dien. Rasa rinduku sudah terobati. Ingat, jangan kecewakan Galih lagi, dia suamimu, bukan Fajar. Lupakan Fajar. Ingat itu”, kata Icha sebelum dia beranjak pergi meninggalkanku.
     Kini tinggal aku sendiri menunggu kedatangan Galih dan beberapa menit setelah icha berlalu, Galih datang dan kitapun langsung menuju rumah Mama. Sesampainya di rumah Mama, Mama sudah menungguku di depan televisi. Mama menyambutku dengan pelukan.
“Bagaimana kabarmu nak?”
“Andien baik Ma”, dan Papa keluar dari kamarnya.
“Kalian sudah datang. Sebenarnya Mama masih akan berangkat nanti sore, tapi aku butuh bantuan kalian. Duduk  dulu”, kata Papa yang baru keluar dari kamar dan mempersilahkan aku dan Galih duduk.
“Ada apa Pa?”
“Papa minta tolong kalian temani Mama ke Singapure. Papa mendadak dapat kabar dari perusahaan kalau ada urusan yang tidak bisa Papa tinggal. Jadi Papa rasa kalian bisa membantu menemani Mama disana”, aku senang bisa menemani Mama berobat. Tapi aku tidak tahu apakah Galih bisa atau jangan-jangan dia tidak mengijinkan aku jika dia tidak bisa.
“Gimana mas?”, tanyaku pada Galih dengan panggilan mas dan itupun hanya jika ada di depan orang tuaku dan Galih sudah terbiasa dengan itu.
“EHmm.. Maaf Pa, Ma, Galih tidak bisa ikut menemani disana karena Galih juga tidak bisa meninggalkan perusahaan untuk minggu-minggu ini. Biar Andien saja yang menemani Mama. Dia pasti berani meskipun tidak ada saya. Iya kan sayang?”, kata Galih menanyaiku kemudian setelah menjelaskan kepada Papa dengan panggilan sayang padaku.
“Iya mas tidak apa-apa. Andien brani kok”, jawabku singkat.
“Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu pulang dulu, siap-siap, nanti Papa antar kalian ke bandara jam 4 sore”.
     Akupun segera pulang mengejar waktu untuk segera bersiap-siap. Sesampainya di rumah aku menyegerakan diri mandi dan berkemas. Tak lupa aku sholat berjamaah terlebih dahulu sebelum berangkat.
“Andien.. “, sapa Galih  usai sholat.
“Hati-hati ya disana. Begitu urusanku disini selesai, aku akan segera menyusul kamu kesana”, kata Galih menyesali dia tak bisa ikut menemaniku.
“Kamu tidak usah khawatir, aku pasti baik-baik saja”.
“Boleh aku mencium kamu? Mencium keningmu”, kata galih gugup. Mungkin dia takut aku menolaknya, jadi dia harus bilang kalau hanya ingin mencium keningku.
“Dimanapun kamu mau mas”, kataku dengan panggilan mas padanya untuk pertama kalinya dibelakang orang tuaku. Galih kaget saat aku memanggilnya mas.
“Andien, kamu bilang apa barusan?”, tanyanya pura-pura tidak mendengar, seolah dia memang salah dengar.
“Dimanapun mas mau menciumku, aku tidak akan pernah melarang mas karena mas adalah suamiku”, jawabku lirih.
     Dan mendaratlah bibir lembut Galih membasahi bibirku dengan penuh mesra dan dimulai saat ini aku sangat berusaha mengontrol diriku.
“Terima kasih Ya Allah. Terima kasih andien”, ucapnya setelah melepaskan ciumannya.
“Kenapa mas tidak memanggilku dengan panggilan seperti waktu ada Papa dan Mama?”, kataku manja.
“Kamu yakin aku boleh memanggilmu seperti itu?”
     Aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Terima kasih sayang”, kata Galih dan kembali memelukku erat dan mencium keningku. Dan itulah hari pertama aku melihat Galih benar-benar senang setelah kejadian satu bulan yang lalu di hotel dan itupun berakhir kecewa.
***
     Jam sudah menunjukkan jam 4.30 dan sebenar lagi aku akan berangkat bersama Mama ke singapure. Papa dan Galih mengantarku ke airport. Panggilan untuk penumpang ke singapura sudah terdengar. Itu artinya aku dan Mama harus masuk pesawat sekarang juga. Tak lupa aku berpamitan pada Papa dan kemudian pada Galih dan itu hari pertama aku mencium tangan Galih, menyalaminya.
“Mas, aku berangkat dulu. Do’akan mudah-mudahan perjalanan lancar dan semuanya akan lancar-lancar saja disana”, kataku berpamitan pada Galih dengan menyalaminya dan mencium tangannya. Galih tersenyum melihatku. Sepertinya dia sangat bahagia hari ini.
“Aku akan sangat merindukanmu sayang”, bisiknya ditelingaku dan aku membalas dengan senyum pula. Dan akupun masuk bersama Mama dan dokter yang mengantar kita yang juga kebetulan sahabat Mama. Hari ini mungkin akan menjadi perjalanan yang melelahkan, tapi setidaknya aku sedikit lega karena aku sudah berhasil membuat Galih tersenyum kembali

Sembilan
     Ini adalah hari ketigaku berada di singapure. Pengobatan Mama sudah dimulai. Tadi siang, dokter memintaku untuk mengambil beberapa resep yang harus aku tebus d apotik, aku segera kesana. Saat akan keluar apotik, seseorang menabrakku karena dia terlihat sedang sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Dan degggg!!!!!!! Mungkinkah aku bermimpi?? Seseorang yang menabrakku barusan adalah seseorang dan tidak asing lagi.
“Andien?”, sapanya membuyarkan lamunanku. Dan benar, aku tidak bermimpi. Dia adalah Fajar, fajarku yang selama ini aku sayang. Aku jadi salah tingkah berhadapan dengannya. Sampai aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun padanya.
“Andien ini aku Fajar?”, kata Fajar heran melihatku kaget.
“Ehhmm,.. Fajar. Kenapa kamu bisa ada disini?”, tanyaku heran karena seharusnya dia ada di New York.
“Papa menugasiku menyelesaikan proyek disini untuk beberapa bulan ke depan dan aku baru sampai disini kemarin. Kamu sedang apa disini”, tanyanya kembali.
“Aku sedang menemani Mama berobat disini”, kataku gugup.
“Jadi kamu kesini bersama Galih?”
“Galih tidak ikut kesini. Dia masih di Indonesia. Kalau pekerjaannya di Indonesia sudah selesai, dia akan segera menyusulku”
“Kalau begitu, kamu sendirian ke rumah sakit? Boleh aku temenin kamu ke rumah sakit? Sekalian aku ingin tahu kabar Mama kamu”, pinta Fajar dan aku mengiyakannya. Rumah sakit tidak terlalu jauh dengan apotik dan cukup dengan berjalan kaki saja bisa sampai ke rumah sakit.
“Apa kabarmu dan Galih Andien?”
“Baik”
“Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong sudah ada tanda-tanda aku akan jadi om belum?”, aku kaget Fajar menanyakannya. Dan aku hanya menggelengkan kepala saja.
“Dien, kamu masih seperti andien yang dulu, kamu masih cantik seperti dulu, kamu..”
“Sudah menjadi milik orang lain”, potongku ketus.
“Ya begitulah. Mungkin Galih memang jodoh kamu. Tentu kalian sudah menjadi keluarga yang bahagia”
“Dan seandainya kamu bisa merayu Papamu agar mengijinkan kamu pulang saat aku menyuruhku melamarku, mungkin aku akan lebih bahagia lagi Fajar”, kataku kembali dengan nada ketus.
“Andien, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Aku benar-benar tidak bisa lakukan apa-apa saat itu dan aku juga tidak pernah menyangka Galih yang akan menjadi calon suamimu. Aku tidak ada niat membohongimu dien, dan bahkan jika Galih menceraikanmu saat ini juga, aku akan langsung melamarmu dan menikahimu karena aku masih mencintaimu sampai sekarang”
“Sudah lah Fajar, semuanya sudah berakhir. Tidak usah diungkit lagi dan jangan katakan cinta lagi. Dan sebaiknya kamu pulang saja. Mama belum tentu bisa melihat kamu, mungkin dokter belum mengijinkan siapapun masuk mengunjunginya. Lebih baik kamu pulang saja”, kataku dan hendak meninggalkan Fajar tapi Fajar menarik tanganku.
“Tunggu Andien”, kata Fajar memegang tanganku dan mengambil selembar kartu dari dompetnya. Dia memberiku satu alamat dan memberikannya padaku.
“Aku tunggu kamu besok malam disini”, dan Fajar menyodorkan kartu nama itu dan langsung pergi meninggalkan aku.  Sungguh tidak pernah aku sangka aku akan bertemu Fajar disini. Sungguh aku sangat merindukannya, tapi statusku saat ini adalah istri orang, apa masih pantas aku menemuinya? Lalu aku teringat kembali dengan obat yang baru aku beli dari apotik. Aku teringat Mama dan bergegas menemui dokter yang menyuruhku membeli obat ini tadi.
     Aku hanya bisa melihat Mama dari kaca pintu kamar dimana mama dirawat. Mama masih tertidur pulas, mungkin karena obat. Aku memandangi wajah cantik Mama dari balik kaca dan tidak terasa air mataku menetes. Ingin rasanya menemani Mama disana. Dan memoryku kembali ke beberapa tahun silam, saat Mama selalu memanjakan aku, tapi kini ia berbaring tak berdaya.
     Adzan  magrib berkumandang, aku menyegerakan diri ke masjid, sedangkan Mama sudah ditangani dokter yang sudah menjadi kepercayaan Papa. Aku tunaikan sholat magrib di masjid dekat rumah sakit. Bersimpuh memohon kesembuhan untuk Mamaku. Dalam do’a, aku selalu meminta sembuhkanlah Mamaku, jauhkanlah penyakit itu dari Mama agar aku bisa melihat Mama kembali ceria seperti dulu. Dan tak lupa aku kembali mengingat Galih dan berdo’a agar keluargaku selalu dalam lindungan-Nya. Dan itulah setiap do’a yang aku panjatkan setiap saat aku berdo’a dan tak lupa memohon ampunan atas dosa-dosaku.
     Usai sholat magrib, aku kembali menemui Mama. Disana mama masih belum sadar juga.
“Dokter, bagaimana keadaan Mama saya?”, tanyaku pada dokter yang baru saja keluar dari kamar Mama.
“Sejauh ini kondisi Mama anda masih stabil. Kamu tenang saja. Sekarang lebih baik kamu pulang ke hotel, istirahatlah dulu karena besok kamu harus menemani Mamamu sepanjang hari”, kata dokter yang kebetulan jadi kepercayaan Papa untuk menemani Mama disana. Akupun sedikit lega mendengar kondisi Mama yang membaik.
     Tiba-tiba aku dikagetkan dengan bunyi ponselku dan ternyata pesan dari Papa. Saat aku mengeluarkan ponselku, selembar kertas terjatuh dari tasku. Kartu nama yang tadi diberikan Fajar padaku tadi siang. Dan pikiranku beralih padanya. Aku sangat merindukannya, tidak ada salahnya aku datang untuk terakhir kalinya dengannya. Galih akan memilikiku selamanya, tapi Fajar tidak akan pernah memilikiku lagi dan mungkin inilah kesempatan terakhirku untuk menghabiskan waktu-waktu bersama Fajar. Akupun memutuskan untuk menemuinya.
***


     Jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Tidak butuh banyak tenaga untuk mencari alamat yang diberikan Fajar. Dan aku sampai di depan apartemen yang sangat besar dan aku langsung mencari tempat Fajar. Begitu aku masuk, seseorang menyapaku.
“Anda Andien?”
“Iya. Ada apa ya?”, jawabku bingung. Aku tidak pernah mengenal orang ini tapi dia tahu namaku.
“Aku diminta menunggu anda oleh Bapak Fajar dan diminta untuk mengantar anda ke tempat yang sudah disiapkan”, aku semakin penasaran apa yang sudah Fajar persiapkan untukku. Begitu aku masuk suatu ruangan, aku terkejut melihat ruangan yang penuh lampu kelap kelip. Dan lebih dikagetkan lagi dengan bunga mawar merah yang dibentuk menjadi gambar hati yang ada di depanku dan lebih kaget lagi saat seseorang muncul dibelakang bunga itu. Fajar, ya dia yang muncul. Memoryku kembali pada beberapa bulan yang lalu saat Fajar memberikan kejuan yang sama meski tak semewah ini.
     Fajar meraih tanganku dan mengajakku berdansa dan kenangan benar-benar sudah mengalahkanku.
“Aku sangat merindukanmu Andien”, bisik Fajar ditelingaku saat kita berdansa.
“Aku juga sangat merindukanmu Fajar. Setiap saat, bayanganmu tidak pernah hilang. Apapun yang aku lakukan selalu ada kamu”
“Termasuk saat kamu bercinta dengan suamimu?”
“Dan Galih belum pernah melakukannya karena yang ada dibenakku saat dia mengajakku, aku selalu mengingatmu Fajar”, Fajar menghentikan dansa dan memelukku erat. Hangat sekali yang kurasakan pelukan Fajar, tapi terasa ada yang beda. Perasaanku sudah tak seperti dulu saat Fajar pertama kali memeluk. Ada yang aneh dengan perasaanku meskipun aku sangat menikmati pelukan Fajar dan sangat bahagia bisa bersamanya malam ini.
“Andien, aku mencintaimu”, kata Galih melepaskan pelukannya dan mencium bibirku dan ini adalah ciuman pertamanya. Dan kurasakan kembali ciuman inipun tidak membuatku tergetar seperti saat Galih menciumku. Galih, aku jadi teringat dia dan langsung kulepas pelan ciuman Fajar. Apa yang sudah aku lakukan? Aku istri orang. Tapi kenapa aku sangat nekad melakukannya? Galih maafkan aku. Aku janji malam ini yang terakhir dan aku tidak akan melakukannya. Melihat aku bingung, Fajar mengajakku ke meja makan dan menikmati hidangan yang sudah ada.
“Andien, kamu senang malam ini”, Tanya Fajar padaku.
“Sangat Fajar,sudah sangat lama aku tidak bertemu denganmu. Bahkan tidak ada perpisahan yang indah. Mungkin saat inilah perpisahan indah itu”
“Bukankah kamu masih mencintaiku? Aku tidak ingin lagi berpisah denganmu. Bukankah kamu tidak bahagia dengan Galih?”, kata Fajar memelas.
“Fajar, bukankah kamu yang memberitahukan aku kalau kita jodoh, kita pasti akan bertemu lagi suatu saat”
“Dan sekarang kita sudah bertemu”
“Bukan dengan statusku sebagai istri orang Fajar. Tidak mungkin aku bisa bersatu dengan kamu sedangkan aku istri Galih. Bukankah kamu juga turut bahagia atas pernikahanku?”
“Tapi bukan dengan Galih sahabatku. Meski aku berkata aku turut bahagia, tapi aku tidak bisa terima Galih sebagai suamimu. Kenapa kamu tidak memintanya untuk menceraikanmu saja? Bukankah kamu tidak bahagia bersamanya? Dan Mama kamu sudah menjalani operasi ini. Apa lagi masalahnya?”, kata Fajar menggenggam tanganku.
“Perlu dipikirkan matang-matang Fajar”, kataku singkat.
     Dan malam yang indah ini Fajar tak hanya mengajakku ke resto yang sangat indah, tak hanya mengajakku berdansa, tapi dia juga mengajakku ke bukit yang indah di sana sampai aku tertidur dipelukan Fajar semalaman di bukit.
***
     Adzan subuh berkumandang membangunkanku dari tidurku di bukit. Saat aku membuka mata, kutemukan Fajar dalam pelukanku, rasanya aku tidak ingin melepaskannya. Dia yang sangat aku cintai. Tapi aku harus segera kembali ke rumah sakit dan terpaksa aku membangunkan Fajar dan mengajaknya segera ke masjid untuk sholat subuh.
     Dan di masjid ini aku kembali bersimpuh memohon ampun atas apa yang sudah aku lakukan. Aku bahkan lupa pada suamiku karena dikalahkan kenangan. Aku memohon ampun atas dosa yang sudah kuperbuat. Aku bersimpuh dalam tangisku. Usai sholat, aku kembali menemui Fajar.
“Fajar, aku akan kembali ke rumah sakit. Aku harap ini pertemuan terakhir kita. Terima kasih untuk malam ini”
“Andien? Terakhir? Kamu tidak ingin menemui aku lagi?”, Tanya Fajar
“Tidak Fajar. Aku sudah punya suami. Ini yang terakhir. Selamat tinggal Fajar”, dan aku langsung meninggalkan Fajar di masjid dan aku sangat berharap itu yang terakhir karena aku ingin menjadi istri yang sempurna untuk Galih.
     Kutemui Mama di kamarnya dan aku sudah boleh menemui Mama.
“Gimana kondisi Mama”, tanyaku pada Mama yang mungkin juga baru membuka mata.
“Mama baik-baik saja. Berapa lama lagi kita disini Dien? Mama sudah tidak kerasan disini. Kamu juga harusnya bersama suami kamu, malah ada disini”
“Mama… Mama tidak usah memikirkan Andien. Yang penting mama focus pada kesembuhan Mama. Kan mama sudah janji sama Andien”, kataku menyemangati mama.
“Kapan kamu mau memberikan mama cucu?”
“Secepatnya ma. Pasti. Andien janji sama Mama”, kataku meyakinkan  Mama.
     Mama masih harus menghabiskan beberapa hari lagi disini. Pengobatannya harus dituntaskan agar mama bisa kembali bugar.
***
     Sudah hampir satu minggu aku ada disini menemani Mama, dan mama belum boleh pulang. Selama itu juga Fajar sudah tidak menemuiku, mungkin dia sudah menyadari kalau aku bukan untuknya lagi. Hari ini aku sengaja ingin berangkat lebih pagi ke rumah sakit untuk menemui Mama. Dan tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunga besar di depan kamarku dan lagi-lagi Fajar muncul dibalik bunga-bunga itu.
“Untuk apa kamu kesini lagi?”, tanyaku cukup ketus.
“Aku sangat merindukanmu Andien”, kata Fajar padaku. Fajar sudah sangat berubah. Ini bukanlah Fajar yang aku kenal dulu. Fajar yang aku kenal dulu memang selalu penuh kejutan tapi dia tetap sopan dan menghargai aku. Tapi Fajar yang aku kenal sekarang lebih nekad bahkan sampai mengajakku menikah dan menceraikan Galih.
“Tapi sayangnya aku tidak suka dengan semua ini Fajar”, jawabku ketus dan aku langsung mengunci kamarku dan bergegas meninggalkan Fajar, tapi Fajar tetap mengejarku dengan kata-kata cintanya. Dan tiba-tiba aku dikagetkan seorang laki-laki yang aku tabrak di depanku. Galih. Galih datang menyusulku. Aku bingung. Dia melihatku keluar dari kamar dan Fajar mengikuti aku. Apa yang akan dipikirkan Galih tentangku. Aku beranikan diri menyapa Galih.
“Mas Galih. Kapan datang?”, tanyaku gugup.
“Baru saja sayang. Ini juga langsung menemui kamu karena aku sudah sangat merindukan kamu”, jawab Galih dan mendaratkan ciumannya di keningku. Usai menyapaku, Galih menghampiri Fajar.
“Hallo Fajar. Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu dan tidak disangka-sangka kita bisa bertemu disini”, kata Galih terlihat tanpa perasaan cemburu ataupun marah.
“Aku baik Galih. Aku disini ada proyek dan kebetulan bertemu Andien di apotik kemarin”
“Oh ya?? Sudah berapa lama ada disini? Kenapa kamu sudah lama tidak menghubungi aku bahkan kau tak kabari aku kalau kau ada di singapure”
“Aku disini sudah hampir seminggu Galih.”
“ Oh iya sayang, aku capek sekali, mau temenin aku istirahat dulu kan di kamar?”
     Dan aku hanya mengangguk karena aku benar-benar takut Galih marah padaku. Aku yakin, setelah ini Galih akan marah padaku dikamar. Aku pasrah saja apapun yang akan Galih lakukan padaku.
“Andien pesankan minuman dulu mas”, kataku memanggil waiter ke kamar. Galih hanya mengangguk mengiyakan.
“Mas, aku minta maaf mas. Aku benar-benar kebetulan bertemu dengannya mas”
“Andien.. Sudah lah. Aku tidak marah. Sudah berapa kali kamu bertemu dengan Fajar? Aku ingin kamu jujur sama aku, jika aku tahu kamu bohong, aku akan sangat marah sama kamu”, kata Galih dengan ramah. Dan disaat denting seperti ini Galih masih bisa bersikap tenang dan ramah padaku. aku bingung? Apa aku harus jujur apa yang sudah aku lakukan dengan Fajar? Tapi mungkin memang lebih baik aku jujur.
“Sudah dua kali mas. Yang pertama saat aku papasan dengannya di apotik dan yang kedua hari ini”, aku tidak bisa jujur pada Galih karena aku tahu dia akan sakit sekali jika mendengar aku menghabiskan malamku di bukit bersama Fajar meskipun tak sempat terjadi sesuatu antara aku dan Fajar disana.
“Kamu senang bisa bertemu dengan Fajar”
“Kenapa mas bertanya seperti itu?”
“Karena aku ingin tahu. Kamu senang?”, Tanya Galih kembali.
“Entahlah mas. Tapi aku tidak pernah punya niatan apa-apa mas. Aku bingung mas”, kataku dan bersimpuh di kaki Galih memohon ampun pada suamiku.
“Andien.. Aku sangat mengerti perasaanmu. Aku paham betul. Tapi benar kan tidak terjadi apa-apa antara kamu dan Fajar”, aku hanya mengangguk mengiyakan Galih.
“Tapi kenapa kamu sangat ketakutan Andien? Bukankah kamu memang sangat merindukan Fajar dan sangat ingin bertemu dengannya?”
“Entahlah mas? Aku memang merindukannya. Tapi aku sadar aku istri mas Galih”, kataku berbohong. Sebenarnya aku sudah menghabiskan malamku dengan Fajar. Maafkan aku mas. Dan terasa aneh rasanya. Aku sungguh sudah tidak memikirkan Fajar lagi meskipun selama ini aku merindukannya. Justru aku ingin sekali memilih Galih jika aku memang harus memilih.
     Usai sedkit berdebat dengan Galih aku mengajaknya menemui Mama. Kudapati Mama sedang terbaring di kamar. Aku mengajak Galih masuk.
“Andien,, Kapan suamimu tiba di Singapure Dien?”, Tanya Mama begitu mendapati Galih menyalaminya.
“Tadi pagi Ma”
“Mama apa kabar Ma?? Baik-baik saja bukan”, Tanya Galih akrab
“Iya Galih, Mama baik. Kamu sendiri bagaimana? Kamu baru datang kok sudah langsung kesini? Harusnya kamu istirahat dulu di hotel”
“Tidak apa-apa Ma. Galih kesini kan untuk menjenguk Mama, bukan untuk istirahat. Hari ini Andien dan Galih akan menemani Mama disini sampai terapinya selesai”
“Iya Ma, kita akan menemani Mama disini”, Mama tersenyum melihat aku dan Galih. Galihpun benar-benar menemaniku sampai siang.
     Kudengar suara adzan dhuhur berkumandang, aku segera mengajak Galih ke masjid terdekat.
“Mas, kita sholat dulu”, ajakku dan Galih mengiyakan. Dan aku berpamitan pada Mama untuk kutinggal sebentar ke masjid. Sejak saat itu, aku rasa ada yang aneh dengan perasaanku pada Galih. Mungkinkah benih-benih cinta sudah tumbuh?
     Usai sholat, kita langsung kembali menemui Mama. Mama sudah bersama Dokter Irma dokter pribadi Mama dan sekaligus sahabat Mama.
“Dien, kamu pulang saja. Suamimu butuh istirahat. Mama disini sama dokter Irma”
“Iya Dien. Kamu tidak usah khawatir, aku akan menjaga Mama kamu”, kata dokter Irma meyakinkan.
“Benar Mama tidak butuh Andien dan mas Galih?”, Tanyaku dan dibalas dengan anggukan oleh Mama.
     Dan akupun mengajak Galih pulang. Tak lupa kami berpamitan pada Mama sekedar mencium tangan Mama. Dan mobilpun melaju mengitari jalan raya.
 “Dien, ikut aku sebentar ya”, pinta Galih saat kita dalam perjalanan kembali ke hotel dari rumah sakit. Matahari sudah ada di ufuk barat, dan dokter pribadi Mama yang sekaligus sahabat Mama sudah menggantikanku menjaga Mama.
“Mau kemana Mas?”
“Kamu mau nanti malam aku ajak kamu makan malam? Makan malam special di Singapure”, kata Galih dengan menyunggingkan sedikit ssenyum. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Kalau begitu, sekarang aku mau ajak kamu ke Mall disini, kita cari gaun disini karena aku yakin kamu pasti tidak membawa gaun kesini. Aku ingin melihatmu terlihat sangat cantik mala mini.
“Aku terserah mas saja”, aku masih antara percaya dan tak percaya dengan tingkahku yang sedikit sudah bisa berubah. Dan aku ingin malam ini menjadi malam yang indah dengan suamiku.
***
     Usai sholat magrib, kita bersiap untuk makan malam di luar. Dan Galih kembali tercengang melihatku dengan balutan busana yang sangat anggun. Aku juga melihat Galih sangat tampan dengan kemeja yang dikenakannya. Galih menghampiri yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mengenakan busana indah ini.
“Sayang, kamu terlihat sangat cantik. Aku kangen sama kamu. Sudah 1 minggu kamu meninggalkan aku di Jakarta. Ingin rasanya aku segera menyusulmu”, dan mendaratlah ciuman romantic dibibirku. Aku membalas ciumannya dan inilah yang aku rasakan beda saat Fajar menciumku. Aku merasa aneh dengan ciuman Fajar, tak seenjoy aku menikmati ciuman Galih, suamiku sendiri. Ternyata ciuman Galih yang sudah mengalahkan ciuman Fajar, lelaki yang sangat aku cintai. Apa mungkin justru cintaku lebih besar pada Galih sekarang, atau justru aku sudah tidak mencintai Fajar lagi?”, gumamku dalam hati.
     Galih melepas ciumannya dan menatapku lekat-lekat.
“Mas Galih juga terlihat sangat tampan”, jawabku tersenyum.
“Aku mencintaimu Andien. Aku tidak peduli kau mencintaiku atau tidak, tapi suatu saat nanti akan tiba waktunya kau akan mencintaiku lebih dari rasa cintamu pada Fajar”, kata Galih padaku. Dan kitapun bergegas ke resto yang sudah Galih pesan tadi.
     Malam yang sangat indah. Lagi-lagi aku terpesona dengan gaya Galih memberikan surprise. Lilin bertebaran di kolam renang dan ditengah-tengah tertulis I Love Andien.
“Maaf sayang, mungkin tak seindah yang kamu bayangkan karena ini bukan kreasiku sendiri, aku hanya minta mala mini harus menjadi malam romantic untuk kita”, kata Galih menggenggam tanganku.
“Aku suka mas. Terima kasih”, dan kitapun mulai menyantap makan malam yang indah ini. Usai menyantap makanan, Galih mengajakku berdansa. Aku sungguh menikmati malam yang indah ini dengan selalu memandang Galih, memandangnya lekat-lekat karena aku ingin tahu apa yang aku rasakan? Cintakah? Tapi aku masih belum bisa yakin aku mencintainya.
     Setelah cukup lama menikmati candle light dinner, aku mengajak Galih pulang karena aku tau dia sangat lelah karena semenjak dia sampai di Singapure, dia sama sekali tak istirahat. Saat aku dan Galih keluar, Benar-benar tidak disangka aku bisa bertemu dengan Fajar disana.
“Galih, andien, kalian sedang makan malam disini juga?”, Tanya Fajar
“Iya Fajar. Kamu sedang apa disini?”, Tanya Galih tenang.
“Aku sedang makan malam tapi Cuma sendiri saja. Andien, kamu cantik sekali”, kata Fajar padaku tanpa dia pedulikan Galih ada disampingnya.
“Itu sudah pasti Fajar. Dan aku sangat beruntun bisa menikahinya. Aku pulang dulu, badanku sangat lelah rasanya”, kata Galih dan kitapun bergegas pulang.
     Dalam perjalanan, aku hanya terdiam dan begitu pula dengan Galih. Kuberanikan untuk menyapa Galih karena aku ingin tahu apakah dia kesal dengan perbuatan Fajar tadi.
“Mas, mas tidak sedang marah kan?”, tanyaku gugup.
“Marah kenapa sayang?”, Tanya Galih sambil membelai pipiku.
“Fajar tadi…”
“Aku tidak marah sayang. Dia memang benar, kamu sangat cantik. Aku senang istriku dipuji-puji dan memang benar aku sangat beruntung menjadi suami kamu”, kata Galih memotong pembicaraanku. Dan ternyata dia tidak marah bahkan dengan tersenyum dia mengatakannya padaku. Tapi aku tidak tahu pastinya bagaimana perasaannya.
     Malam  ini, usai sholat isya’, Galih langsung merebahkan badannya ditempat tidur dan selang beberapa menit dia sudah terlelap dalam tidurnya. Mungkin karena dia sangat kelelahan. Belum lagi setelah perjalanan dari Indonesia ke singapure dan dia belum sempat istirahat. Kuselimuti badannya dan akupun menyusul merebahkan badanku untuk terlelap tidur.

Sepuluh
     Ini adalah hari kedua Galih ada di Singapure. Usai sarapan kita kembali menemui Mama di rumah sakit. Dan kabar gembira bahwa Mama sudah bisa dibawa pulang. Pengobatannya sudah bisa dilanjutkan di Jakarta. Mama sudah bisa pulang besok dan aku senang itu artinya Mama sudah semakin membaik. Begitu mendengar kabar gembira itu dari dokter, aku langsung merangkul Galih. Saat aku merasakan Galih hanya diam, kulihat wajahnya ternyata dia sedang memandangiku.
“Kenapa Dien? Kok masih terlihat gugup saat merangkulku?”, Tanya Galih mengejek.
“Aku…aku…”, kataku gugup dan Galih kembali merangkulku.
“Kalau begitu, aku akan mengurus semua administrasinya dulu, kamu tunggu aja di depan kamar Mama”, kata Galih dan bergegas mengurus administrasi rumah sakit.
     Saat aku sedang menuju kamar Mama, tiba-tiba seseorang menarikku. Dan Fajar yang telah menarikku.
“Fajar. Untuk apa kamu disini”, tanyaku heran.
“Jadi, ini terakhir kamu ada disini? Mama kamu sudah boleh pulang kan?”, tanyanya lirih.
“Kita sudah tidak ada urusan lagi Fajar. Aku sudah punya suami. Kita sudah tidak mungkin bisa bersatu lagi”, kataku menjelaskan pada Fajar.
“Andien, kamu mencintai aku? Bukankah Mama kamu sudah sembuh? Kamu bisa menceraikan Galih karena kamu hanya bisa bahagia denganku”, kata Fajar sembari meraih tanganku dan menggenggam tanganku.
“Tidak mungkin Fajar. Dia suamiku. Aku tidak mungkin menceraikannya. Dia sangat mencintaiku”
“Tapi kamu tidak pernah mencintainya. Bahkan kamu tidak bisa melupakan aku sampai kamu tidak pernah bercumbu dengan suami kamu karena hanya aku yang kamu ingat. Iya kan?”
“Itu dulu Fajar. Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum Galih datang. Dan maaf, kita tidak bisa bertemu lagi”
“Tidak bisa Andien. Aku sangat mencintaimu. Bukankah bertahun-tahun kita saling memendam perasaan kita?”
“Tapi itu masa lalu Fajar. Mungkin aku sudah tidak mencintaimu. Dan mungkin aku sudah mencintai Galih”
“Aku tidak percaya kau sudah mencintainya. Bukankah malam  itu kamu sangat bahagia bersamaku. Berdansa, bukit indah, bahkan kamu tidak menolak saat aku mencium kamu”, kata Fajar
“Cukup Fajar. Aku sudah tidak ingin mengingat kamu. Kamu masa laluku dan apa yang aku lakukan kemarin sangat menjijikkan jika aku ingat. Pergi kamu dari sini”
     Dan aku sangat kaget ketika aku melihat Galih sudah ada dibelakang Fajar dan mungkin sudah sejak tadi dia ada disini tapi tak terlihat karena tertutup badan Fajar.
“Mas Galih”, sapaku tapi dia benar-benar sudah mendengar semuanya. Galih pergi begitu saja meninggalkanku.
“Puas kamu?”, kataku membentak Fajar. Aku bingung bagaimana aku menjelaskannya. Aku sudah membohonginya. Aku lari mengejar Galih yang terlihat sangat marah.
“Mas Galih”, teriakku dan langsung ku tarik tangan Galih saat dia sudah ada di depanku. Galih tak melihatku, dia diam berdiri tanpa sedikitpun melihatku.
“Mas, aku bisa jelaskan semuanya”, kataku memohon
“Jangan disini. Lebih baik kamu sekarang temui Mama dan bereskan semua barang-barang Mama. Besok kita berangkat pagi-pagi. Aku pulang duluan”, kata Galih ketus dan tak memgubrisku lagi.
     Air mataku menetes, tapi aku tahan karena aku tidak ingin Mama khawatir akan keadaanku. Tapi saat mama berbicara denganku, aku sering tidak nyambung, karena pikiranku ada dimana-mana. Aku sangat takut Galih tidak akan memaafkan aku.
     Usai membereskan semuanya, aku pamitan pada Mama untuk pulang karena aku ingin cepat menemui Galih dan menjelaskan semuanya. Dalam perjalanan, aku sangat bingung. aku takut Galih bahkan tidak mendengarkan penjelasanku.
     Sesampainya di hotel aku langsung menuju kamarku dan berharap Galih ada disana, tapi ternyata tidak. Tidak ada Galih di kamar, lalu dia kemana? Dan aku coba untuk menghubungi ponselnya tapi ponselnyapun tidak bisa dihubungi. Aku semakin bingung. Dan tidak ada cara lain selain menunggunya disini sampai Galih datang.
***
     Jam sudah menunjukkan pukul 12. Aku terbangun dari tidurku dan masih lengkap dengan mukenah yang aku pakai. Aku ketiduran usai sholat isya’ sambil menunggu Galih. Tapi sudah larut malam seperti ini Galih belum juga datang. Aku semakin takut dan bingung, tapi beberapa saat setelah aku terjaga, Galih datang. Galih masuk kamar dengan ekpresi sangat dingin terhadapku. Aku beranikan diri menyapanya saat dia duduk di samping jendela membelakangi aku.
“Mas, dari mana sampai malam seperti ini?”, tanyaku pada Galih
     Galih tetap saja diam.
“Mas, mas Galih masih marah sama aku”
     Dan dia masih tetap diam.
“Mas Galih, aku minta maaf, aku bisa jelaskan semuanya mas”
“Apa saja yang kalian lakukan?”, Tanya Galih dengan ekspresi ketus
“Mas, aku tidak bermaksud…”
“Apa yang kamu lakukan dengannya?”
     Terpaksa aku harus menceritakan semuanya pada Galih.
“Malam itu dia mengajakku makan malam dan dia menyiapkan makan malam yang indah. Dan aku terbawa suasana mas. Aku dikalahkan oleh kenangan dan dia menciumku. Tapi aku khilaf mas. Aku minta maaf mas”, kataku dan air mataku sudah tak bisa dibendung lagi.
“Lalu ada apa dengan bukit indah?”
“Aku semalaman disana bersama Fajar, tapi tak ada yang kita lakukan disana mas. Aku hanya tertidur malam itu di bukit. Hanya itu saja mas”
     Galih terdiam mendengat ceritaku. Menatap kosong ke luar. Aku tahu hatinya sangat hancur mendengar semua ini. Hanya meminta maaf saja yang bisa aku lakukan saat ini.
“Usap air matamu dan pergilah tidur”, kata Galih dingin.
“Mas Galih masih marah sama aku? Mas Galih belum bisa maafin aku?”
     Galih membalikkan badannya dan memandangku.
“Aku tidak ingin bertengkar denganmu, jadi pergilah tidur. Aku sangat marah padamu dan jangan semakin menambah kemarahanku. Tidurlah”, kata Galih padaku dan akupun menurutinya. Aku tau dia sangat sakit hati gara-gara perbuatanku. Aku memang salah. Tidak seharusnya aku lakukan itu. Dan aku memilih diam saja meskipun aku tak bisa memejamkan mata. Dan terasa sangat sulit untuk memejamkan mata.
***
     Adzan subuh berkumandang membangunkan dari tidur yang kurasakan sangat singkat. Dan aku melihat Galih tertidur di kursi dekat jendela tempat terakhir aku melihatnya. aku tidak berani membangunkannya, tapi, mau tidak mau aku harus membangunkannya untuk sholat subuh. Aku hampiri Galih dalam tidurnya.
“Mas Galih. Ayo bangun, sudah subuh”, pelan-pelan aku berusaha membangunkan Galih.
     Tiba-tiba Galih menarik tanganku kepelukannya. Aku kaget dan reflek aku menolaknya.
“Andien.. Tenang saja, aku Cuma bercand”, kata Galih dan langsung meninggalkanku menuju ke kamar mandi. Dan disusul olehku setelah Galih keluar dari kamar mandi. Usai ambil wudhu, aku sholat berjamaah dengan Galih dan itu sudah sering kami lakukan.
     Sekitar jam 5.30, aku mengemasi semua barang-barang karena pagi ini kita akan kembali ke Indonesia. Begitu semuanya sudah siap, aku dan Galih menjemput Mama terlebih dahulu dan  akan langsung ke airport.
“Kalian ada masalah”, Tanya Mama padaku. Mungkin Mama curiga karena aku dan Galih selalu diam dan dengan ekspresi yang dingin sedari tadi.
“Kita baik-baik saja Ma. Iya kan sayang”, kata Galih berusaha menyembunyikan masalah kita. Dan aku mengiyakan Galih. Perjalananpun terasa hampa. Biasanya Galih selalu ngomel ngobrol dengan Mama, tapi yang kudapati saat ini dia hanya terdiam saja.
     Ya Allah… Aku tahu salahku cukup besar telah membohongi suamiku dan aku minta maaf Ya Allah.. Luluhkan hati suami hamba agar mau memaafkan hamba Ya Allah..
Dan aku hanya bisa berdo’a dalam hatiku setiap saat agar Galih bisa memaafkan aku. Dan kusadari kalau aku sudah bisa mencintainya. Jika ini bukan cinta, tidak mungkin aku sampai bingung seperti ini, dan tidak mungkin aku akan mati-matian meminta maaf padanya dan tidak mungkin pula aku merasa hampa saat dia terdiam. Dan inilah cinta yang kurasakan kepada suamiku Galih.
***
     Siang berganti malam, malam berganti siang dan begitulah setiap hari. Sudah 3 hari ini sikap Galih masih tetap dingin terhadapku. Malam ini Galih datang jam 8. Aku menyambutnya manis dan hampir setiap hari aku selalu menyambutnya dengan manis, tapi sikapnya tidak berubah. Malam ini, aku berencana menuntaskan semuanya agar tidak berlarut-larut. Kusiapkan susu hangat untuk Galih dan hanya ucapan terima kasih saja darinya.
     Usai mandi dan sholat, aku beranikan diri menghampiri Galih.
“Mas, mas Galih masih marah sama Andien?”
     Galih hanya terdiam saja seolah dia tidak mendengar suara apa-apa. cukup lama aku menunggu Galih menjawab bahkan sampai kuulangi sampai 3 kali dengan pertanyaan yang sama. Tapi Galih masih tetap saja.
“Mas, sampai kapan mas akan memperlakukan aku seperti ini mas?”, tanyaku membentak karena aku sudah seperti tak dianggap ada disampingnya sejak tadi.
“Aku capek mas seperti ini terus. Mas Galih jangan egois dong mas”, sambungku.
     Tiba-tiba Galih melihat ke arahku yang sudah berlinang air mata.
“Sejak kapan kamu merasa membutuhkan aku? Apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Berapa lama kamu memperlakukan aku tidak  seperti seorang suami? Kamu masih ingat kapan kamu melayaniku sebagai seorang istri?”, kata Galih dengan tatapan dingin. Aku tak bisa berkata apa-apa. semua pertanyaan Galih adalah murni kesalahnku.
“Apa kamu pernah berfikir perasaanku disaat malam pertama? Apa yang kamu  pikirkan saat aku merayumu untuk bercumbu? Bukan aku kan? Bukankah ini yang kamu inginkan dari aku? Bukankah kamu ingin aku tidak menyentuhmu?”
“Mas, itu memang kesalahanku mas, tapi aku sadar mas, aku minta maaf”, kataku terisak.
“Dan betapa sakit hatinya saat aku melihatmu dan Fajar di depan kamar hotel kamu dan betapa sakitnya aku saat mendengar dari mulut  Fajar sendiri kalau kamu dan dia berciuman sedangkan kamu sudah punya suami? Apa kamu mengingatku saat kau berciuman dengannya? Apa kamu mengingatku saat kamu ada dibukit itu?
     Galih benar-benar meluapkan semuanya. Meluapkan semua kesalahanku, semua perasaannya yang selama ini dipendamnya. Air mataku semakin deras mendengarkan Galih dan menyadari semua kesalahanku yang menurutku sadah fatal.
“Apa aku harus mengerti kamu terus? Kamu pikir aku suami yang bodoh membiarkan istrinya dicium orang lain? Kamu pikir dengan kesabaranku selama ini kamu bisa memanfaatkan aku? Bukankah aku sudah memintamu untuk jujur? Seandainya kamu jujur, mungkin aku tak kan semarah ini”
     Aku semakin tak bisa menahan tangis. Sakit rasanya di dadaku mendengar Galih marah-marah meskipun itu semua memang kesalahanku.
“Kamu tidak pernah mengerti perasaanku. Belum cukupkah aku mengerti perasaanmu? Tidak bisakah kamu sedikit saja mengerti aku Andien?”
     Aku tak kuasa melihat wajah Galih yang sedang murka. Seorang suami yang sedang marah pada istrinya. Galih terdiam sejenak dari marahnya.
“Sekarang apa mau kamu? Kamu ingin kembali pada Fajar? Kamu ingin aku menceraikan kamu?”, tanyanya dan lantas membuat aku sangat terkejut. Aku sungguh tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Mas, aku mohon maafkanlah aku mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku minta maaf mas. Aku tidak ingin mas Galih menceraikan aku. Aku tidak ingin bercerai mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi dan aku akan melupakan Fajar mas”, kataku sambil berlutut memegang kaki Galih, meminta ampun atas kesalahanku.
“Butuh berapa lama lagi agar kamu bisa melupakannya?”, Tanya Galih ketus
“Setidaknya yang aku tahu aku mencintai kamu mas Galih”, kataku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya aku sendiri belum yakin.
“Sudahlah Andien. Tinggalkan aku sendiri dulu. Aku tidak yakin kamu bisa melupakan dia. Aku beri kamu waktu satu hari untuk memikirkannya. Jika kamu memang ingin aku menceraikan kamu, akan aku talaq kamu hari itu juga”, kata Galih dan langsung meninggalkanku tersimpuh di lantai.
“Mas Galih… Jangan tinggalkan aku mas. Aku akan berubah mas. Aku akan lupakan dia dan aku mencintaimu mas”, teriakku sia-sia karena Galih sudah jauh melaju dengan mobilnya.
***
     Pagi ini, aku terbangun dengan badan lunglai tak berdaya seolah tenagaku terkutas habis untuk menangis semalaman. Kudapati Galih tidak disampingku. Aku mencari Galih ke koridor rumah. Dan tetap tidak kudapati Galih ada dimana-mana. Aku hubungi ponselnya dan ponselnya pun tidak bisa dihubungi.
     Kulihat keluar rumah ternyata mobil Galih ada di depan rumah, dan terpikir olehku ruang kerja Galih belum aku periksa dan ternyata benar Galih tertidur di ruang kerjanya. Kupandangi wajahnya dan baru kali ini pula aku merasakan ada perasaan yang terpendam, ya.. perasaan cinta yang sudah tumbuh dihatiku untuknya. Perlahan kudekati dia dan aku menciumnya. Galih terbangun karena ciumanku.
“Andien? Sudah pagi?”, tanyanya padaku.
“Iya mas, kita sholat dulu”, ajakku pada Galih dan Galihpun bergegas menuju kamar mandi. Aku sempat kaget saat Galih terbangun, aku takut dia akan marah karena aku menciumnya.
     Hari ini adalah hari sabtu dan terlintas dibenakku untuk memberinya kejutan untuk malam minggu. Tapi aku masih belum ada rencana apa-apa.
“Andien, aku berangkat dulu”, pamit Galih padaku saat akan berangkat ke kantor. Aku mengantarnya keluar dan aku menunggunya berpamitan padaku dengan mencium keningku seperti suami istri layaknya.
“Aku berangkat dulu, Assalamu’alaikum”, dan hanya salam saja yang diucapkannya tanpa kecupan kening di pagi hari. Mungkin Galih masih marah padaku.
“Wa’alaikumsalam”, jawabku dan Galih melaju dengan mobil mewahnya.
     Aku kembali memikirkan kejutan apa yang akan aku berikan pada Galih malam ini. Mungkin dengan cara aku membuktikan bahwa aku mencintainya, dia bisa memaafkan aku lagi. Dan akan aku lakukan apapun sampai Galih memaafkan aku. Karena sudah tidak dapat dipungkiri lagi, perasaan ini adalah perasaan cinta.
***
     Akhirnya aku memutuskan untuk membuat makan malam yang indah seperti pertama kali Galih lakukan di rumah ini. Aku segera berangkat ke toko bunga untuk membeli beberapa bunga yang akan aku gunakan sebagai dekorasi dan memesan makanan istimewa mala mini dan tak lupa pula mencari lagu bernuansa romantic.
     Saat semua sudah lengkap, aku segerakan mendekorasi rumah seindah mungkin dengan bunga mawar berwarna warni. Aku rias rumah dengan lilin berbentuk lambing cinta dengan nama kata-kata I Love Galih ditengahnya di ruang tamu yang cukup luas untuk menulisnya. Dan sebelumnya aku sudah meminta tolong pada teman Galih agar mengajaknya ke rumahnya dulu dan menyuruhnya pulang tepat jam 7 malam karena aku tidak ingin Galih tahu surprise yang sudah aku siapkan.  
     Jam sudah menunjukkan jam 4 sore. Ponselku berdering dan toko kue yang aku pesan memintaku mengambil pesanannya karena aku memang tidak memintanya untuk mengantar kesini. Akupun bergegas mengambil pesanan kue setelah menunaikan sholat ashar. Hatiku sangat menantikan malam tiba. Ingin degera melihat ekspresi Galih saat melihat rumah dan melihatku dengan Gaun yang dibelikannya di Singapure.
     Saat keluar dari took kue, aku merasakan getaran ponselku di tas, dan saat aku mencarinya di tas, ada seseorang yang menyenggolku dari samping dan kueku terpental. Aku berusaha menangkapnya tapi naas sebuah mobil menabrakku dan yang aku rasa semuanya jadi gelap.

Dua Belas
     Aku tersadar dari tidurku yang cukup panjang. Aku merasakan sakit di kepalaku. Dan samar-samar aku melihat wajah seorang laki-laki disampingku yang tengah menggenggam tanganku.
“Mas Galih”, sapaku setelah wajahnya sudah terlihat jelas
“Iya sayang, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga. Semalaman kamu terbaring tak sadarkan diri disini”, kata Galih lirih.
     Kepalaku memang terasa sakit, namun tak sampai menghilangkan memoryku tentang masalah rumah tanggaku.
“Mas, aku minta maaf mas”, kataku meminta maaf kepada Galih.
“Sudahlah sayang. Aku sudah memaafkanmu”, kata Galih tersenyum.
“Benar mas? Mas Galih serius kan?”, tanyaku tak percaya dan aku berharap Galih sudah benar-benar memaafkan aku.
“ Terima kasih atas kejutannya meskipun kita tidak sempat melewatinya tadi malam”, kata Galih sembari mengecup keningku. Aku kembali teringat pula kejutan yang sudah aku siapkan untuk Galih, tapi gagal karena aku mengalami kecelakaan saat mengambil pesanan kue.
“Jadi mas Galih sudah tahu? Mas Galih semalam sempat pulang?”
“Semalam saat aku mendapat kabar kamu kecelakaan, aku langsung kesini, tapi saat harus mengurus administrasi, aku lupa kalau dompetku tertinggal di rumah, terpaksa aku segera pulang ke rumah untuk ambil dompet dan aku melihat rumah sudah sangat indah”, jawab Galih dengan senyum senang.
“Aku ingin memberikan kejutan padamu mas agar kau percaya kalau aku mencintaimu”
“Dan aku sudah percaya. Maafkan sikapku sayang. Tidak seharusnya aku berlarit-larut bersikap dingin terhadapmu. Maaf ya sayang.”, kata Galih membelai pipiku.
“Wajar jika mas Galih marah sama aku. Dan ini ganjaran buat seorang istri seperti aku. Ini hukuman buat aku”
:Sudahlah sayang. Kita tidak usah mengingat yang sudah-sudah, kita lihat masa depan kita. Terima kasih karena kamu sudah mencintaiku. Ternyata kesabaranku selama ini membuahkan hasil. Terima kasih sayang”, kata Galih memandangku lekat-lekat.
     Dan sejak saat itulah aku berjanji akan menjadi istri yang solehah untuk suamiku Galih. Dan aku akan selalu mencintainya sampai maut memisahkan kita.
***

     Hari ini aku sudah boleh pulang dari rumah sakit karena lukaku memang tidak memerlukan banyak waktu untuk menginap di rumah sakit. Sudah sore tapi Galih belum datang menjemputku. Tadi dia pamitan sebentar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Akhirnya kuputuskan menghubunginya tapi sebelum aku memencet nomornya, tiba-tiba ponselku bordering dan nama Galih yang terlihat dimataku.
“Mas Galih kok lama?”
“Sayang, aku mendadak tidak bisa menjemput kamu karena aku lupa kalau sekarang kita diundang ke rumah Papa, Papa ada acara pembukaan perusahaan barunya. Sebentar lagi supir baruku akan datang menjemput kamu dan dia akan mengantar kamu ke salon. Kamu tidak keberatan kan ikut aku nanti malam  ke rumah Papa? Kamu kuat kan? Kamu pasti kuat. Aku minta maaf sayang”, kata Galih dari seberang sana.
“Iya mas, tapi..”
“Sudahlah sayang, aku tunggu di rumah, karena aku sekarang masih ada tamu di rumah. Sudah aku titipkan gaun pada supir dan nanti kamu tinggal bilang saja mau ke salon mana. Kamu harus tampil sangat special malam  ini. Oke”, kata Galih dan tanpa banyak kata lagi dia langsung mematikan ponselnya. Aku bingung kenapa semendadak ini.
     Tak sampai sepuluh menit, supir Galih sudah sampai dan akupun langsung menuju salon. Kubuka bingkisan yang ada dibelakang jok mobil dan wah… betapa bagus dan indahnya Gaun yang Galih berikan padaku. Galih membelikanku gaun baru lengkap dengan sepatu yang tak kalah anggunnya. Perasaan bingungku yang tadi mendadak hilang setelah aku melihat gaun itu. Akupun menyuruh supir mempercepat lajunya karena aku sudah tidak sabar ingin memakai gaun terindah yang pernah aku punya. Tapi, laju mobilku mendadak aku suruh hentikan karena adzan magrib sudah berkumandang. Aku meminta supir terlebih dahulu mengantarku ke masjid dan aku tidak perlu khawatir salon akan tutup karena salon langgananku buka sampai malam. Usai sholat, aku suruh supir mempercepat  lajunya dan segera menuju salon. Setibanya di salon, aku meyuruh supir menunggu di mobil dan aku masuk kamar.
     Dan subhanallah, betapa indahnya gaun yang terbalut dibadanku ini.
“Wah, anda terlihat sangat cantik, ditambah gaun anda yang sangat mendukung. Suami anda pasti akan sangat terpesona melihat anda.”, puji pemilik salon yang baru saja mendandaniku.
“Terima kasih mba’”
     Dan usai didandani aku langsung bergegas pulang karena aku yakin sudah menunggu. Ponselku bordering dan Galih menghubungiku.
“Mas, maaf pasti mas Galih menunggu lama. Tadi sebelum ke salon, aku ke masjid dulu untuk sholat. Maaf yam as, sekarang aku sudah di jalan menuju rumah”
“Tidak apa-apa sayang. Bilang supirnya jangan ngebut, aku tidak ingin terjadi apa-apa. kamu tidak perlu terburu-buru”, kata Galih tenang.
     Dan selang beberapa menit, mobilku sudah memasuki halaman rumhku. Aku lihat rumahku gelap. Perlahan aku mendekati pintu rumah. Kuketuk pintu tak ada yang membukakan dan ternyata pintu rumah tidak terkunci. Perlahan aku membuka pintu dan betapa kagetnya aku saat ada di rumahku yang terdekorasi sangat indah dan itu tak lain adalah dekorasiku kemarin. Dan lampu kelap kelip menyala diiringi langkah Galih dari atas tangga dan menyusul alunan lagu syahdu mengiringi Galih yang menghampiriku.
“Welcome home Darl”, kata Galih membisikiku dan tiba-tiba aku rasakan bibirnya di bibirku. Aku membalasnya dengan penuh cinta.
“Terima kasih Mas Galih”, jawabku setelah Galih melepas ciumannya.
     Galih mengajakku ke meja makan untuk menyantap makan malam yang sudah disediakan. Dan subhanallah, hidangan dan kuenyapun persis seperti yang aku pesan.
“Mas Galih pesan semua ini? Dari mana mas tahu bentuk kue yang aku pesan seperti ini?”, tanyaku heran melihat semuanya sesuai rencanaku.
“Aku hanya tidak ingin kejutan darimu gagal. Semua catatan pesanan kamu ada di meja Dapur, jadi aku tahu semuanya. Kamu suka?”
“Sangat suka mas”, kataku tersenyum. Dan kamupun menikmati hidangan yang ada.
     Usai menikamati hidangan, Galih beranjak dari duduknya menghampiriku dan membungkuk di depanku mengangkat tangannya bak seorang pangeran yang mengajak seorang putri berdansa. Galih mengajakku berdansa dengan alunan lagu yang juga pilihanku. Lilin yang bertuliskan “I Love Galih” juga tetap diposisinya dengan ada tambahan di bawahnya “I Love Andien” yang sudah pasti Galih yang membuatnya.
     “Mas, terima kasih atas semuanya mas. Betapa bodohnya aku jika aku menyesal menikahimu. Aku sangat beruntung punya suami sesabar mas Galih. Aku sangat beruntung punya suami yang sangat mencintaiku. Aku sangat beruntung. Puji syukurku kepada Allah karena sudah membukakan pintu hatiku hingga aku bias menjadi sadar akan semua kesalahanku selama ini. Terima kasih mas Galih”, kataku lirih dalam dansa sambil memandang wajah Galih.
“Aku juga sangat berterima kasih sayang. Aku berterima kasih karena kamu bisa membalas cintaku. Terima kasih karena kamu memilihku. Akupun juga sangat beruntung punya istri secantik kamu. Dimataku hanya kamu istri yang sholehah”
     Dan kamipun terbawa suasana dengan indahnya lagu. Malam ini kami serasa seperti kembali lagi menjadi sepasang pengantin baru. Saat Mas Galih menatapku mesra, dan jantungku berdetak dengan kencang. Dan inilah cinta,cinta yang selama ini aku harapkan dan aku bisa merasakannya.
     Malam inipun pertama kalinya aku benar-benar menikmati belaiannya, ciumannya dan pelukannya dengan penuh ikhlas dan tanpa bayangan sesiapapun lagi.
     Mas Galih menatapku lekat-lekat dan ditariknya tanganku perlahan seolah dia memintaku untuk mengikutinya. Kuikuti langkahnya dengan menggenggam tangannya dan mas Galih mengjakku ke kamar. Jantungku semakin berdebar debar, keringat panas dingin pula rasanya.
     Dengan langkah pelan kumasuki kamarku yang hanya diterangi sinar beberapa lilin kecil di kamar. Galih tetap menuntunku ke tempat tidur tanpa ragu karena aku sama sekali tak menunjukkan pemberontakan sedari tadi.
“Andien, aku sangat mencintaimu”, kata Galih membisikkan kalimat itu ditelingaku dengan kemesraan.
“Aku juga mencintaimu mas”, jawabku kemudian.
     Dengan ditemani alunan lagu yang masih terdengar, dengan harum mawar yang bertebaran dan sinar lilin kecil, akupun menuntaskan tugasku sebagai seorang istri. Dan inilah yang pertama semenjak beberapa bulan yang lalu kami menikah.
     Peluh kami bersatu merambas sprei yang ditaburi bunga-bunga mawar berwarna warni. Inilah cinta yang sesungguhnya. Setelah sekian lama Mas Galih bersabar menungguku. Kini aku hanya menunggu kedatangan buah hati kami karena semua masalah yang menggeluti sedikit demi sedikit terselesaikan.
     Bunga mawar yang indah dan lilin-lilin kecil menjadi saksi dua insane yang sedang merajuk cinta. Dan semoga ini awal yang indah untuk keluargaku agar menjadi keluarga yang sakinah.
Terima kasih Ya Allah…

Tiga Belas
     Dua bulan sudah aku menikmati indahnya keluargku dengan cinta. Dan akupun semakin bahagia ketika dokter member tahuku bahwa aku positif hamil dan usia kehamilanku masih satu minggu. Dan ditambah lagi kondisi Mama yang semakin membaik. Lengkaplah kebahagiaanku. Dan sejak saat dokter menyatakan aku hamil, mas Galih tidak mengijinkan aku bekerja lagi, dan Mas Galih selalu memanjakanku dan menuruti kemauanku. Kini kusadari betapa indahnya hidup ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar