6 Agt 2011

MEMBEKAS DIHATI

     

 Hembusan angin menerpa wajahku di tepi pantai yang sangatlah indah. Kesegarannya, luasnya samudra yang ada dihadapanku saat ini benar-benar sangat menakjubkan. Dan benar-benar liburan yang sangat menyenangkan. Pagi yang sangat indah dengan  deburan ombak yang sesekali membasahi kakiku.
     Bunyi alarm di handphoneku berdering mengingakanku hari ini adalah hari ulang tahun tunanganku. Aku hanya tersenyum, ingin rasanya menemuinya dan menjadi oarng pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi itu tidak mungkin mengingat jarak kita yang cukup jauh. Aku hanya bisa menghubunginya melalui celuler. Tanpa pikir panjang, aku langsung  menghubunginya.
“Hallo sayang,masih sepagi ini telpon”, kata Fano diseberang sana.
“Happy b’day ya… Mudahan-mudahan apa yang kamu harapkan terkabulkan semuanya”, kataku di balik handphone kunoku.
“Terima kasih sayang. Ternyata masih ingat juga sama ulang tahunku. Tapi aku masih ngantuk, udahan dulu ya. Makasih ya sayang”, kata Fano dengan nada suara yang lirih karena sepertinya Fano benar-benar sudah tidur.
“Ya sudah kalo gitu.”, kataku mengakhiri pembicaraan. Aku sudah hampir 2 tahun bertunangan dengannya. Fano adalah tipe cowok yang romantic, humoris, baik dan sopan. Dia perfect buat aku. Mungkin karena hanya dia lelaki yang singgah dihatiku karena aku tak pernah mengenal lelaki selama masa remajaku atau memang dari perasaanku yang paling dalam. Biasanya dia rutin menghubungi setiap saat, tapi akhir-akhir ini, sepertinya ada yang beda. Fano sudah agak jarang menghubungi aku lagi. Tapi aku selalu positif thinking tentang dia, karena dia pernah bilang kalo dalam suatu hubungan harus saling percaya, dan aku percaya dia gak akan mengecewakan aku. Dan itulah aku yang selalu mempercayainya.
**)
     Hari ini aku pulang dari liburan di Villa. Hari ini adalah pernikahan kakakku. Semua keluarga berkumpul disini tapi tanpa adanya Fano. Fano juga sudah semakin jarang menghubungiku lagi. Dan aku teringat semalam ayah memintaku untuk menghubungi Fano dan akupun segera menghubunginya.  
“Fan, kenapa kamu gak pulang? Ini kan hari pernikahan kakakku. Bukannya aku sudah bilang ya sama kamu kalo kakakku nikah hari ini. Aku tungguin kok gak dateng-dateng? Jadi jam berapa kamu datengnya?”, aku bertanya panjang lebar karena aku mengharapkan dia datang hari ini.
“Yang nikah kan kakak kamu. Emang kita juga mau ikutan nikah? Kamu aja yang nikah kalo gitu. Untuk apa sih aku pulang, emang ngaruh ya?”, tanya Fano ketus dan sontak membuat aku kaget dengan jawabannya barusan.
“Kamu kenapa sich? Gak kangen ya sama aku?”, tanyaku ketus pula karena aku terlajur kaget dengan sikapnya yang seperti itu.
“Sudahlah gak usah gitu. Kan bisa telpon juga. Aku sibuk gak bisa pulang. Udah ya, kerjaanku numpuk nih, harus aku selesaikan sekarang juga.”. fano langsung menutup telponnya tanpa mengucapkan salam. Aku kesal dibuatnya. Aku semakin bingung kenapa Fano jadi berubah seperti ini.
“Din, sudah hubungi Fano?”, tanya ayah mengagetkanku.
“Ayah, sudah yah. Tapi Fano tidak bisa pulang, dia bilang dia sangat sibuk sekarang”, kataku menyembunyikan kesedihanku. Tapi aku yakin ayah pasti tau perasaanku saat ini.
“Sabar ya nak”, kata ayah sambil memegang pundakku.
Hampir saja air mataku menetes karena rasa sakit ini, tapi aku tahan karena hari ini adalah hari bahagia kakakku, aku tidak boleh mengacaukan acara ini.
**)
Sudah seminggu sejak pernikahan kakakku, Fano selalu dengan nada ketus jika aku hubungi. Aku jadi bingung dengan sikapnya sekarang. Dia sering berjanji akan pulang secepatnya tapi itu hanya janji, dan dia juga sering telat menghubungi, selalu tidak tepat sesuai janjinya. Suatu ketika dia menyuruhku menunggunya di taman dekat rumah. Aku menunggunya, tapi ternyata dia tidak datang dan hanya meminta maaf. Akhirnya aku sibukkan diriku dengan banyak kegiatan agar aku tidak terlalu berfikir negative tentang Fano karena aku sudah pasrahkan semuanya pada Tuhan yang maha tahu.
     Hari ini, ada seorang perempuan yang menghubungiku. Perempuan yang baru saja aku kenal melalui celuler. Dia mengaku sebagai sahabat dari pemuja rahasiaku. Namanya Rika. Dia mengajakku bertemu di taman deket rumahku. Dan akupun segera menemuinya. Aku tengok tidak seorangpun di kursi taman, dan aku menunggunya.
“Hai Diana”, sapa seorang gadis dari belakangku.
“Hmm… Kamu Rika?”, tanyaku melihat gadis asing yang menyapaku.
“Iya, kenalkan kau Rika”, dia mengulurkan tangannya padaku. Aku tak perlu lagi menyebutkan namaku karena dia sudah hafal namaku.
“Ada apa kamu ajak aku kesini?”, tanyaku memulai pembicaraan denganya yang terasa sangat asing buatku.
“Aku Cuma ingin berteman dengan kamu. Kamu gak nolak kan?”, tanyanya padaku dengan tingkahnya yang terlihat ingin sekali lebih akrab denganku.
“Dengan senang hati. Senang berteman denganmu.”, kata Rika  mengakrabkan diri. Sepertinya dia gadis yang baik.
“Oh iya, aku tahu kamu dari Dika sahabatku yang selama ini diam-diam suka sama kamu. Setiap pagi dia selalu memperhatikanmu dari jauh meskipun kamu tidak pernah sadar itu”, Rika menceritakan sahabatnya yang cukup membuatku besar kepala dan tersanjung akan perhatiannya sama aku meskipun tak di tunjukkannya langsung sama aku.
“Kenapa dia gak pernah menemui aku?”, tanyaku penasaran seperti apakah sebenarnya cowok itu.
“Dia sadar kalo kamu hanya mimpi buat dia, dia sadar kamu gak mungkin bisa terima cintanya jika dia ungkapkan sama kamu. Semunya akan percuma”, Rika memandangku dengan penuh arti sambil menceritakan bagaimana perasaan Dika yang belum pernah aku kenal.
“Kenapa? Belum apa-apa kok udah nyerah? Kalo dia bener-bener suka sama aku, pasti apapun dia lakukan kan?”
“Tapi tidak merebut kamu dari tunanganmu kan?”, Rika langsung memotong pembicaraanku dan keluarlah kata-kata itu.
“Tunangan? Kalian tahu dari mana aku sudah punya tunangan?”, tanyaku heran. Dia ungkit masalah tunangan.
“Itu yang jadi alasan Dika selalu mengurungkan niatnya untuk menemui kamu. Dia sadar kamu sudah milik orang lain”
“Tapi hanya segitukah perjuangannya?”, potongku ketus. Entah kenapa aku jadi penasaran sama Dika. Dari apa yang Rika ceritakan padaku, sepertinya Dika sangat mencintaiku.
“Sudah lah Diana. Dia akan baik-baik saja. Oya, tunanganmu sekarang dimana?”, Rika mengalihkan pembicaraan. Dan mengingatkanku lagi pada Fano yang sudah berubah sejak dia selalu bilang sibuk dengan kuliahnya dan lantas membuat aku sedikit kesal dibuatnya.
“Tunangan?  Dia kuliah di Bandung. Dia di universitas ternama disana”, kataku menceritakan detailnya Fano.
“Bandung? Jauh banget Dian? Kamu gak takut dia akan ninggalin kamu?”, Rika membuat aku khawatir dengan kata-katanya barusan.
“Kamu tahu pergaulan di Bandung?”,
“Jelas tahu lah Diana, aku kuliah di Bandung, tapi bukan di kampus tunangan kamu. Tapi aku punya banyak temen di kampus tunangan kamu. Namanya siapa? Mungkin aku bisa cari tahu tentang dia?”,ternyata dia juga dari Bandung. Mungkin dia bisa carikan info apa sebenarnya kesibukan Fano disana.
“Namanya Fano. Dia sangat perhatian, tapi entah akhir-akhir ini dia sangat sibuk”, kataku sedih
“Sibuk? Dia gak pulang? Bukannya sekarang udah libur ya disana?”
“Mana aku tahu? Aku gak ngerti seperti apa kesibukan mahasiswa”, kataku lirih.
“Bandung bukan tempat yang dekat, dan bukan tempat yang tepat untuk hubungan kalian. Susah menjalin hubungan dengan jarak jauh seperti itu. Kamu cinta mati sama dia?”,
“Cinta mati? Membingungkan. Cinta mati sih ngga’, tapi aku mencinta dia. Dulu aku terima lamarannya karena dia ngancam orang tuanya akan berhenti kuliah kalo orang tuanya tidak mau segera melamarku. Akhirnya aku terima dia karena aku dipaksa oleh orang tuaku”, entah apa yang mendorongku untuk bercerita seperti itu? Mungkin karena aku kesal pada Fano yang sudah seperti agak melupakan aku.
“Dia masih sering menghubungi kamu?”, tanyanya padaku sambil menyodorkan makanan untukku.
“Iya,dia tetap sering telpon aku, tapi sudah sering gak tepat dengan janjinya. Telponku malah jarang diangkat sekarang”. Aku menceritakan semuanya sama Rika. Padahal aku tahu dia baru saja aku kenal, tapi sepertinya aku lega sudah menceritakan semuanya padanya.
“Mudah-mudahan aja dia setia”, kata Rika sambil menggenggam tanganku.
“Sudah lah gak usah ingat dia. Trus gimana cerita tentang Dika? Dia kerja?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Iya, dia sudah kerja. Dan tempat kerjanya selalu melewati depan rumah kamu”, kata Rika sambil tertawa.
“Kenapa gak kamu ajak saja dia ketemu aku?”
“Aku gak mahu ngecewain dia Din. Aku sahabatnya sejak kecil aku gak mahu hanya mendapatkan harapan dari kamu, sedangkan kamu sudah punya tunangan”,
“Tunangan kan, belum nikah juga. Tunangan kan masih bisa putus. Nikah aja bisa cerai, apalagi tunangan?”, kataku sambil bercanda dengan Rika.
“Kamu serius? Berarti rasa sayang kamu sama tunangan kamu gak sebesar yang aku pikirkan dong”, dia menerka perasaanku terhadap tunanganku.
“Mungkin saja”, jawabku tenang. Sejak aku berbicara dengannya dari tadi, aku teringat Fano. Caranya berbicara sama dengan Fano, persis dengan logatnya.
“Kamu mengingatkan aku pada Fano. Tadi siang dia telfon aku. Logat bicaramu persis dengan Fano”, aku senang bisa mengenalnya meskipun aku baru saja mengenalnya. Aku jadi punya temen ngobrol.
“Aku pulang dulu ya. Besok-besok kita ketemu lagi. Tapi ketemunya disini ya. Aku gak mau ke rumah kamu. Malu”, dan dia berpamitan pulang dan dia mengajakku bertemu dia lagi besok.
Diapun berlalu dan aku masih memilih tetap berada di taman, merenungkan apa saja yang telah aku bicarakan pada Rika, terutama Dika yang membuatku sangat penasaran. Sudahlah, lupakan saja. Fano sekarang sudah jarang banget menghubungi aku. Di telfonpun jawabannya selalu ketus. Apa dia bosan sama aku? Itu yang selalu aku  tanyakan pada diriku sendiri.
**)

     Pagi ini aku kembali ke taman untuk menepati janjiku kemarin untuk bertemu dengan Rika. Aku berharap Rika datang bersama Dika.
“Hey, lama nunggunya?”, Rika datang mengagetkan aku.
“Mana Dika? Kok kamu sendirian? Katanya kamu mau ngajak dia”, tanyaku pada Rika yang datang sendirian.
“Dia gak mau. Belum siap sakit hati katanya. Hehehe”
“Kamu ada-ada aja”, kataku tertawa
“Eh gimana tunangan kamu? Udah hubungi kamu lagi? Ternyata temenku satu kampus sama tunangan kamu tapi dia gak kenal sama tunanganmu”, Rika nyeletuk seeanknya. Itu jugalah yang membuat aku suka berteman dengannya.
“Fano? Belum ada kabar tentang dia”, aku terdiam saja karena aku tidak ingin membahas Fano hari ini.
“Sekarang gentian kamu dong yang cerita”, kataku mengalihkan pembicaraan.
“Aku? Ada apa denganku?”, tanyanya tertawa sinis.
“Kok gitu ekspresinya? Tentang cinta kamu lah. Kamu udah punya pacar? Ada di Bandung juga?”,
“Iya. Dia sekarang lagi dirumahnya. Sayangnya aku ada diposisi yang tidak mengenakkan. Cinta segitiga”, dia bercerita sedih. Aku bisa lihat dari caranya berbicara dan dari raut wajahnya.
“Kenapa? Kamu cerita deh sama aku. Ada apa?”, tanyaku berusaha menjadi teman yang baik. Mungkin dia butuh bantuanku.
“Namanya Fanny”, aku kaget ketika dia menyebut namanya. Sama dengan nama yang biasa di pake Fano. Nama samarannya Fano.
“Fanny? Sama seperti nama samarannya Fano ya. Dia satu kampus sama kamu?”, tanyaku penasaran. Karena aku takut yang dimaksud adalah Fano.
“Iya lah, satu kampus sama aku. Bukan Fano, dia kan beda kampus sama aku”, dia meyakinkanku kalo Fanny bukan Fano.
“Oh, aku kira Fano tunanganku. Terus, kenapa dengan posisi kamu?”, sambungku penasaran.
“Dia sudah punya tunangan. Sama seperti kamu. Dia udah hampir 2 tahun tunangan”
“Dia dijodohin”, tanyaku sambil memegang tangannya. Aku masih berfikir Fanny itu adalah Fano.
“Ya gak lah. Pilihannya sendiri. Mana ada di Jakarta dijodohin? Udah gak jaman. Dia kan anak Jakarta”, jawabnya dan lagi-lagi membuat ku lega begitu tahu dia dari Jakarta.
“Kamu sudah tahu sejak awal kalo dia udah punya tunangan?”
“Iya. Sebelum dia nembak aku, dia sudah bilang kalo dia sudah punya tunangan. Tapi ku bilang jalani saja bersamanya. Karena aku cinta sama dia. Dia janji sama aku bakalan putusin tunangannya. Tapi aku gak pernah memaksanya. Itulah kesalahanku. Menerimanya yang sudah punya tunangan.” Dia berada diposisi yang sangat berlawanan denganku.
“Aku Tanya sama kamu. Seandainya posisi kamu sebagai tunangannya, apa yang kamu lakukan? Ini seandainya. Tenang saja, bukan Fano kok”, aku kaget, aku semakin takut Fano yang dimaksudnya.
“Aku akan putusin pertunanganku karena aku sudah dibohongin. Aku akan marah banget. Dan aku akan sangat marah sama kamu dan gak akan memaafkan kamu”, aku mengatakan sejujurnya perasaanku jika akulah yang dimaksud.
“Dia sukanya apa? Pake baju kaos panjang?”, tanyaku karena aku masih penasaran.
“Iya, tapi kaos pendek. Kamu masih penasaran ya? Bukan Fano Din”,
“Handphonenya Warna hitam Orange?”
“Kamu introgasi aku. Diana, bukan Fano kamu. Iya dia pake handphone hitam orange seperti yang kamu makdud, tapi itu handphone baru, yang lama itu handphone jadul, masih tetep ada sampai sekarang”
“Kamu gak lagi bohongin aku kan”, tanyaku penasaran.
“Diana, aku tahu wajah tunangannya. Fanny pernah menunjukkannya padaku. Tenang aja. Udah lah, gak usah bahas dia lagi”, aku terdiam. Aku memang sedikit lega jika memang bukan Fano, tapi masih ada sedikit kecurigaanku. Beberapa menit kemudian, Rika dijemput temennya. Dia akan kembali ke Bandung hari itu juga.
“Din, temenku sudah menjemput. Aku harus kembali ke Jakarta karena kuliahku gak bisa lama-lama aku tinggal. Aku pulang untuk Dika. Aku akan suruh dia segera menemui kamu”, dia berpamitan pergi dan dia akan berangkat ke Bandung dan aku gak akan ketemu dia lagi. Pertemuan singkat yang cukup menyenangkan.
“Rika, terima kasih ya sudah mau kenal dengan aku. Pertemuan singkat yang menyenangkan”, Rika tersenyum melihatku. Seperti ada yang dia sembunyikan dariku. Dia menatapku penuh arti tapi aku tak tahu maksudnya.
“Din, maafin aku ya. Aku berangkat dulu. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi”, dan kata maaf itu mengakhiri pertemuan kita. Kata maaf yang tidak aku mengerti maksudnya, tapi sepertinya kata maaf itu sangat mengandung arti. Tapi aku belum tahu maksudnya apa, dan dia sudah tidak akan bertemu dengaku lagi. Aku kembali teringat tentang Fanny dan Fano yang sedkit memiliki kemiripan cerita. Tapi sudah lah, mungkin itu hanya perasaanku.
**)

     Malam ini aku masih bingung dan khawatir, aku putuskan untuk menghubungi Fano, karena beberapa hari ini dia tidak ada kabar.
“Hallo”, Deggg… Jantungku seolah berhenti berdetak mendengar suara yang menerima telponku. Suara perempuan, bukan suara Fano. Aku langsung mematikan handphoneku. Aku tak bisa percaya Fano selingkuh disana.
“Kenapa Fano tega lakukan semua ini sama aku?”, pekikku dalam tangisanku. Baru kali ini aku tahu Fano selingkuh dibelakangku.
Karena aku selalu berfikir dia akan pegang janjinya unuk tidak menyakiti aku. Aku tidak pernah habis fikir Fano akan lakukan ini padaku. Ini sudah malam, apa yang mereka lakukan disana? Kenapa ada perempuan? Perasaanku sangat kacau waktu itu, tapi aku hanya bisa menangis saja. Kesal, kecewa menyelimuti tidurku yang tak bisa nyenyak.
***)

Pagi ini aku putuskan untuk ke Villa untuk menenangkan hatiku yang sedang kalut.
“Yah, Diana mohon ijin perhi ke Villa. Diana sedang ingin refreshing disana”, pamitku pada ayah.
“Kamu ada masalah Din? Ada apa?”, tanya ayah penasaran dengan sikapku yang sering termenung beberapa hari ini.
“Tidak ada apa-apa ayah. Diana hanya ingin liburan kesana”, kataku menutupi kegelisahan.
“Baiklah. Ditemeni temenmu saja ya, nanti biar P.Amin yang mengantarmu kesana”, kata ayahku dan benar-benar membuatku sedikit lega dapat ijin dari ayah.
     Akupun segera berkemas untuk segera berangkat ke puncak sambil menunggu P.Amin supir pribadi ayah datang. Temanku yang akan menemanikupun sudah datang.  Terdengar suara mobil ayah di luar dan akupun langsung berpamitan pada ibu untuk berangkat ke puncak.
     Mobil melaju dengan cepat. Karena aku meminta P.Amin untuk mempercepat lajunya karena aku ingin segera duduk dipinggir pantai menyendiri menenangkan diri.
     Satu jam sudah perjalannku dan kini sampailah di Villa tujuanku. Aku meminta P.Amin membawa barang-barangku ke Villa dan aku langsung menuju pantai yang indah dan duduk menikmati angin pantai yang menerpa wajauhku. Dering handphone mengagetkanku dan ternyata Fano yang menghubungiku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerima panggilannya.
“Jadi seperti itu maksud kamu? Jadi selama ini kamu tunangan sama aku karena terpaksa? Kamu gak sayang kan sama aku? Kamu dipaksa sama orang tuamu untuk tunangan denganku kan? Ternyata semuanya sama saja”, Fano langsung saja nyeletuk sebelum aku bicara apapun padanya. Aku tertegun kaget mendengar yang sudah dikatakan Fano padaku dan aku sadar, pastilah Rika yang sudah menceritakannya.
“Jadi perempuan yang udah mengaku Rika itu yang sudah cerita? Dengarkan aku dulu Fano. Kamu lebih percaya dia dibandingkan aku? Kamu gak mau dengerin aku?”, tanyaku dalam tangisku.
“Apa yang lagi yang mau dijelaskan? Bukankah sudah jelas kamu gak sayang sama aku, kamu terpaksa memilih aku”, Fano tak memberikan aku kesempatan untuk bicara, dan dia langsung menutup telfonnya. Dan aku coba berkali-kali aku menghubunginya lagi, tapi tidak ada jawaban dari Fano. Aku benar-benar kalut. Perasanku hancur dengan semua ini.
Kenapa kamu gak mau denger aku? Ya Allah,aku juga ingin bahagia. Kenapa kamu lakukan itu sama aku?”
Pesan itu aku kirimkan ke Fano, dan Fano langsung menghubungi aku.
“Fan, aku bisa jelasin semuanya. Dia tiba-tiba datang dan mengorek banyak tentang aku. dan…”
“Dan aku sudah tahu semuanya. Kamu mau dikenalin sama Dika kan, kamu juga dipaksa ayah kamu kan agar mau bertunangan denganku”, Fano memotong pembicaraanku.
“Lalu perempuan semalem yang tidur bersama kamu siapa”, tanyaku kesal.
“Handphoneku dibawa temenku sudah beberapa hari ini. Itu alasanku gak pernah hubungi kamu. Sudah jelas. Kalo kamu sudah mau putusin aku, silahkan, urus semuanya”, Fano langsung memutus pembicaraannya. Aku larut dalam tangisanku. Aku sudah tidak tahu harus bagaiman lagi. Fano sudah tidak mau mendengarkan aku lagi. Di pinggir pantai, di hadapan samudra luas, aku berteriak, meluapkan rasa kesal, kecewa dan sakit hatiku pada lautan.
     Sungguh tidak adil. Kenapa harus aku yang merasakan ini? Apa salahku sampai aku rasakan sakit hati mendalam seperti ini? Betapa bodohnya aku. Teriakku pada lautan yang cukup menguras tenagaku.
***)

     Hari keduaku di Villa aku habiskan duduk di pinggir pantai. Bahkan pulang ke Villa hanya di tengah malam saja.
“Diana”, sapa seorang lelaki dibelakangku.
“Ayah”, kataku dan langsung memeluk ayah.
“Kenapa ayah kesini? Ayah liburan juga”, tanyaku berusaha menutupi kesedihanku.
“Ani, temenmu menghubungi ayah. Dia bilang kamu gak mau makan dan selalu menghabiskan waktumu disini dengan menangis. Ada apa Din? Cerita sama ayah”, ayah memelukku, menenangkanku di pelukannya.
Tiba-tiba saja air mataku menetes dan aku sudah tidak bisa menutup-nutupi kesedihanku lagi.
“Hubunganku sama Fano gak bisa dilanjutkan lagi yah. Diana udah gak kuat seperti ini. Mungkin dia lebih senang dengan orang lain. Diana pengen mutusin pertunangan ini saja”, tangisku malah semakin menjadi di pelukan ayah.
“Dia selingkuh?”, tanya ayahku
“Diana gak tahu yah. Ada seorang perempuan menemui aku dan berawal dari situlah masalahnya”, aku menceritakan panjang lebar tentang Rika yang tiba-tiba datang menemui aku. ternyata sedari tadi ibu juga ada di pantai dan mendengarkan ceritaku.
“Fano keterlaluan. Ibu tau dia punya banyak pacar disana. Ibu sering liat dia telfon-telfonan kegirangan di jalan ketika dia pulang. Untuk apa dipertahankan? Putusin saja”, kata ibuku marah-marah. Tangisku semakin menjadi.
“Kamu jangan sedih ya, kita ke Villa dulu sekarang. Kamu istirahat dulu. Nanti ayah hubungi keluarga Fano”, kata Ayah menenangkanku.
Dan ayah membopongku ke Villa dan menemaniku di ruang tamu bersama ibu. Ayah langsung menghubungi pihak keluarga Fano dan menjelaskan semuanya. Namun belum ada kata putus dari ayah.
“Ayah, kenapa ayah tidak langsung memutuskannya saja ayah?”, kataku heran.
“Diana, semuanya masih bisa dibicarakan baik-baik. Kamu tunggu saja kabar dari Fano, semuanya pasti akan baik-baik saja”, kata ayahku mempertahankan pendapaynya.  Dan aku benar-benar harus menuruti apa mau ayahku. Meskipun perasaanku sudah sangat hancur.
“Mungkinkah aku bisa memaafkan Fano?”, pekikku dalam hati.
**)

     Aku masih menunggu Fano menghubungi, tapi sudah dua hari belum ada kabar dari dia. Dan aku sudah tidak lagi di Villa karena Ibu dan ayah kawatir dengan keadaanku jika aku tetap di Villa. Aku hanya mengurung di kamar saja beberapa hari ini.

Aku mendengar telfon rumah berdering, ibu yang angkat telfonnya. Aku lihat ibu marah-marah, dan ternyata itu Rika yang ingin meminta maaf padaku. Dia juga berkali-klai telfon ke handphneku tapi tidak pernah aku jawab karena aku terlanjur sangat kecewa padanya. Rika yang sudah aku anggap sahabatku, ternyata dia menusukku dari belakang. Dan aku hanya bisa meratapi kesedihanku di kamar berhari-hari. Dan masih tetap tidak ada kabar dari Fano.
     Aku sudah lelah menunggunya. Sampai hari keempat ini Fano tidak menghubungiku. Betapa bodohnya aku sebagai perempuan. Bisa-bisanya kau sangat percaya sama cinta Fano kepadaku, ternyata dia mempermainkan aku dan betapa bodohnya aku mempercayai Rika yang baru saja aku kenal dan aku sudah menceritakan hal bodoh itu. Dan sudah tidak ada gunanya lagi menyesali. Aku tidak kuat dengan semua ini. Dan aku beranikan diri meminta pada ayah untuk menyudahi pertunangan ini.
“Yah, Diana sudah tidak kuat. Diana sudah tidak mau pertunangan ini dilanjutkan yah. Tolong ayah segera hubungi keluarga Fano, karena aku ingin lega dan tidak memikirkan ini terus-terusan yah”, kataku memohon pada ayah.
“Diana, ayah dan papa Fano sudah merencanakan pernikahan kalian setelah hari raya ini sayang”, kata ayah
“Tapi diana gak mau menikah dengan laki-laki yang tidak mencintai Diana yah”, kataku kesal dan langsung kembali ke kamar meninggalkan ayah dan ibu.
     Ternyata ayah benar-benar mengabulkan permintaanku. Hari itu juga ayah memutuskan pertunanganku dengan Fano. Dan sudah satu minggu ini aku terbebas dari ikatan pertunangan itu. Aku sadari aku benar-benar kesepian, sakit hati ini rasanya, perih rasanya harus menerima kenyataan pahit ini. Pernikahan yang sudah tinggal beberpa minggu lagi, akhirnya berakhir di bulan penuh berkah ini, di bulan suci ramadha.
“Din, mau temenin Ibu ke Mall? Yuk, biar kamu bisa refreshing”, ajak ibu padaku dan akupun langsung mengiyakan agar aku tak selalu mengingat Fano. Dan Om Feri, paman Fano tiba-tiba sudah di depan rumahku saat aku hendak berangkat ke mall bersama ibu. Aku kira akan ada kabar gembira datang karena sejujurnya aku masih mengharapkan Fano.

Tapi ternyata dia datang untuk mengembalikan fotoku yang pernah aku berikan padanya dan mengantarkan baju yang terlanjur dibelikan oleh ibu Fano untukku. Sungguh semakin hancur hatiku begitu om Feri datang ke rumah mengembalikan fotoku. Fano benar-benar sudah melupakan aku. dia sudah melupakan aku. Aku coba untuk tetap tegar dan menerima kenyataannya. Dan kuurungkan niat untuk ikut bersama ibu ke mall dan ibu sangat mengerti itu.
     Aku memilih berdiam diri di kamar saja, berusaha menepis rasa sakitku yang teramat ini. Dan mengumpulkan segala kenanganku bersama Fano.
**)

    
 

Hari-hari kulalui dengan luka yang membekas. Perpisahan ini bukanlah pilihanku. Fano pergi meninggalkan aku. Aku memang pernah memujamu, mencinatimu setulus haatiku. Aku tak pernah membayangkan Fano akan melukaiku seperti ini. Ternyata Fano menduakan aku, menghianati cintaku. Fano sudah menghancurkan mimpiku.  Sakit yang aku rasakan ini tidak akan mudah sirna, aku juga tak tahu sampai kapan aku akan membawa sedihku ini sendiri. Perasaan sakit hati yang teramat ini benar-benar menyiksaku dan aku sadari aku sangat mencintai Fano.
     Dan memang sangat membekas luka itu di hatiku. Sampai hampir 1 tahun aku tidak bisa menerima laki-laki lain di dalam hidupku. Sampai akhirnya aku mendapat kabar Fano akan menikah. Dia akan menikah dan mendhahului aku. Fano benar-benar sudah melupakan aku. 

Undangan pernikahannyapun sampai di tanganku. Tapi bukan nama Rika yang ada dalam undangan itu. Nama orang lain. Aku benar-benar harus bisa melupakan Fano. Dia sudah menjadi milik orang lain sekarang.
     Hari ini pernikahan Fano. Ternyata aku tidak bisa bohong pada diriku sendiri kalo aku masih mencintainya dan belum bisa melupakannya. Tapi semuanya sudah berakhir. 

Iringan pengantin lewat di depan rumahku. Aku melihat sedih dari rumahku. Ini adalah hari bahagia Fano dan kehancuranku.
     Mungkin seperti inilah takdir cintaku bersama Fano. Semuanya tinggal kenangan saja. Dan aku tidak boleh terus-terusan larut dalam kesedihan ini. 



“Selamat menempuh hidup baru Fano. Aku pernah sangat mencintaimu dan ternyata seperti ini akhirnya. Terima kasih atas cintamu dulu padaku dan terima kasih atas luka ini”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar